Pemanasan iklim picu penurunan kadar oksigen di sungai di seluruh dunia

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 14 Maret 2024 ini menunjukkan cekungan anak sungai Sungai Amazon di dekat Manaus, ibu kota Negara Bagian Amazonas, Brasil. (Xinhua/Wang Tiancong)

Pemanasan iklim mendorong penurunan kadar oksigen secara luas dan berlangsung terus-menerus di sungai-sungai di seluruh dunia, sehingga mengancam ekosistem air tawar.

 

Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru menemukan bahwa pemanasan iklim mendorong penurunan kadar oksigen secara luas dan berlangsung terus-menerus di sungai-sungai di seluruh dunia, sehingga mengancam ekosistem air tawar.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini dilakukan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh para peneliti dari Institut Geografi dan Limnologi Nanjing di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Nanjing Institute of Geography and Limnology under the Chinese Academy of Sciences/NIGLAS).

Para peneliti tersebut menganalisis data yang dikumpulkan selama hampir 40 tahun, yang mencakup lebih dari 21.000 ruas sungai di seluruh dunia. Mereka menggunakan pembelajaran mesin canggih untuk melacak perubahan kadar oksigen selama periode 1985 hingga 2023.

Hasil penelitian tersebut mengkhawatirkan. Rata-rata, sungai kehilangan oksigen pada laju 0,045 miligram per liter per dekade. Hampir 80 persen sungai yang diteliti menunjukkan tanda-tanda deoksigenasi.

Sungai-sungai tropis, yakni yang berada di antara 20 derajat lintang selatan dan 20 derajat lintang utara, termasuk banyak sungai di India, mengalami dampak paling parah. Temuan ini bertentangan dengan perkiraan sebelumnya bahwa sungai di wilayah lintang tinggi akan paling terdampak akibat penguatan pemanasan iklim di kawasan tersebut. Studi itu menemukan bahwa sungai tropis sejak awal sudah memiliki kadar oksigen yang rendah dan kehilangan oksigen lebih cepat. Kondisi tersebut membuat sungai tropis sangat rentan terhadap peristiwa kekurangan oksigen ekstrem yang dapat mematikan ikan serta biota akuatik lainnya.

Para peneliti menemukan bahwa penurunan kelarutan oksigen akibat perubahan iklim menjadi penyebab utama, yang menyumbang hampir 63 persen dari total penurunan kadar oksigen tersebut. Air yang lebih hangat memang tidak dapat menahan oksigen sebanyak air yang lebih dingin. Perubahan metabolisme ekosistem yang tercermin dari suhu, cahaya, dan aliran air, menyumbang 12 persen lainnya dari penurunan tersebut.

Gelombang panas juga berperan signifikan. Studi tersebut menemukan bahwa peristiwa panas ekstrem bertanggung jawab atas hampir 23 persen deoksigenasi sungai secara global, dengan mempercepat laju penurunan kadar oksigen sebesar 0,01 miligram per liter per dekade dibandingkan dengan kondisi normal.

Studi tersebut juga menemukan bahwa aliran air yang sangat rendah maupun sangat tinggi dapat sedikit memperlambat deoksigenasi. Kondisi aliran rendah mengurangi laju deoksigenasi sekitar 19 persen dibandingkan dengan kondisi normal, sementara kondisi aliran tinggi menurunkannya sebesar 7 persen.

Para peneliti memperingatkan bahwa penurunan kadar oksigen mengancam keanekaragaman hayati sungai karena ikan dan organisme lainnya kesulitan bertahan hidup di perairan yang kekurangan oksigen. Mereka mendesak para pembuat kebijakan untuk mengambil tindakan, terutama di wilayah tropis yang paling membutuhkan strategi efektif untuk mengatasi krisis deoksigenasi.

"Studi ini memberikan dasar yang sangat dibutuhkan untuk memahami dan memitigasi penurunan kadar oksigen di sungai-sungai di seluruh dunia. Seiring pemanasan iklim yang terus berlanjut, melindungi 'napas' sungai-sungai kita dapat menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar pada era ini," kata Shi Kun, peneliti di NIGLAS.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait