
Astronom deteksi pemanasan awal alam semesta sebelum terbentuknya bintang

Foto yang diabadikan pada 3 Juni 2025 ini menunjukkan pergerakan kosmik dalam 'Encounters in the Milky Way', pertunjukan antariksa ketujuh yang digelar di Hayden Planetarium di Museum Sejarah Alam Amerika (American Museum of Natural History/AMNH), New York City, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Yanan)
Zaman Reionisasi menandai berakhirnya Zaman Kegelapan Kosmik, sekitar satu miliar tahun setelah Big Bang, ketika gas antargalaksi bergeser dari buram menjadi transparan, yang memungkinkan cahaya dari bintang dan galaksi awal untuk bergerak ke seluruh alam semesta.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para astronom di Australia menemukan alam semesta awal terasa hangat sebelum bintang-bintang terbentuk, menurut sebuah studi yang diterbitkan baru-baru ini.Tim peneliti di Pusat Penelitian Astronomi Radio Internasional (International Centre for Radio Astronomy Research/ICRAR) sedang mencari ‘Zaman Reionisasi’ (Epoch of Reionization) yang sulit dipahami, sebuah periode awal dalam sejarah alam semesta yang diprediksi oleh teori tetapi belum terdeteksi menggunakan teleskop radio, menurut pernyataan yang dirilis baru-baru ini oleh Universitas Curtin Australia, yang memimpin penelitian tersebut.Zaman Reionisasi menandai berakhirnya Zaman Kegelapan Kosmik, sekitar satu miliar tahun setelah Big Bang, ketika gas antargalaksi bergeser dari buram menjadi transparan, yang memungkinkan cahaya dari bintang dan galaksi awal untuk bergerak ke seluruh alam semesta, ungkap pernyataan itu.Tim tersebut menggunakan teleskop Murchison Widefield Array (MWA) yang terletak di Observatorium Radio-Astronomi Murchison milik Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization/CSIRO) Australia di Wajarri Yamaji Country di Negara Bagian Australia Barat.Mereka menemukan bukti pertama tentang "pemanasan gas di antara galaksi hampir 800 juta tahun setelah Big Bang," kata peneliti ICRAR Ridhima Nunhokee, penulis utama fase pertama penelitian tersebut, yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal."Penelitian menunjukkan pemanasan ini kemungkinan didorong oleh energi dari sumber-sumber awal sinar-X dari lubang hitam awal dan sisa-sisa bintang yang menyebar ke seluruh alam semesta," kata Profesor Cathryn Trott, yang memimpin proyek Zaman Reionisasi di ICRAR.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Terobosan allotransplantasi laring beri harapan bagi pasien di China
Indonesia
•
07 Jun 2023

Taikonaut Shenzhou-17 masuki stasiun luar angkasa, rampungkan serah terima dalam empat hari
Indonesia
•
28 Oct 2023

Operasi implan otak oleh tim klinis China bantu pria lumpuh pulihkan keterampilan motorik
Indonesia
•
05 Feb 2024

Ilmuwan China identifikasi spesies dinosaurus ‘Sauropoda’ baru di China barat daya
Indonesia
•
18 Feb 2025


Berita Terbaru

Ilmuwan temukan akselerator partikel terkuat di galaksi, energinya lampaui perkiraan
Indonesia
•
03 Aug 2026

Ilmuwan temukan gen gandum liar yang bisa hasilkan biji lebih besar dan bergizi
Indonesia
•
03 Aug 2026

Australia konfirmasi kematian massal pertama akibat flu burung H5N1
Indonesia
•
03 Aug 2026

Ilmuwan kembangkan sensor bioelektronik fleksibel untuk pantau jantung dan otak
Indonesia
•
03 Aug 2026
