
Wasiat Seorang Ayah dan Misi Putrinya untuk Meminta Maaf atas Perang Jepang terhadap China (Bagian 2 - selesai)

Ayako Kurahashi berdiri di depan monumen yang bertuliskan permohonan maaf ayahnya kepada rakyat China di sebuah kompleks permakaman di Yoshioka, Prefektur Gunma, Jepang, pada 7 September 2026. (Xinhua/Chen Zean)
Unit 731, yang secara resmi dikenal sebagai Departemen Pencegahan Epidemi dan Pemurnian Air (Epidemic Prevention and Water Purification Department) Tentara Kwantung, melakukan eksperimen mengerikan terhadap manusia serta perang biologis dan perang kuman selama Perang Dunia II.
Ayah Kurahashi saat itu menjabat sebagai perwira pembantu di lingkungan polisi militer.
Matsuno mengatakan bahwa perwira pembantu polisi militer umumnya bertanggung jawab mengarahkan bawahan dalam operasi di garis depan, dan Osawa kemungkinan terlibat dalam operasi pencarian, penangkapan, serta penindasan terhadap orang-orang yang melawan pasukan Jepang.
Mencari kebenaran
Kurahashi mengingat ayahnya sebagai seorang pria yang tegas. Namun, ada satu momen yang masih terpatri dengan sangat jelas dalam ingatannya.
Suatu hari, saat menonton program televisi tentang perang Jepang di China, Osawa mulai menangis.
"Dia mengatakan ada dua tipe orang," kenang Kurahashi. "Sebagian orang akan berteriak kencang dan memohon agar nyawanya diselamatkan sebelum dibunuh. Namun, ada pula yang, bahkan ketika mereka akan dibunuh, tetap menatap lurus ke depan dengan penuh tekad."
"Saya rasa ayah saya pasti sangat menderita ketika mengingat orang-orang yang dibunuh oleh mereka," katanya.
Namun, Kurahashi tidak pernah dapat mengetahui secara pasti apa yang dilakukan ayahnya selama bertahun-tahun berada di China. Meski demikian, keinginan ayahnya untuk meninggalkan pernyataan penyesalan secara terbuka tetap membekas dalam dirinya.
Setelah kakak laki-lakinya, yang menentang pendirian monumen tersebut, meninggal dunia, Kurahashi menulis surat kepada keponakannya dan mendapat persetujuannya.
Pada 1998, dia mendirikan sebuah monumen terpisah di sebuah sudut permakaman keluarga, dengan seluruh pernyataan permintaan maaf ayahnya diukir di atas batu. Keinginan terakhir Osawa akhirnya terwujud.
Kurahashi kemudian beberapa kali berkunjung ke China untuk menyampaikan penyesalan ayahnya. Dia antara lain mengunjungi Museum Perang Perlawanan Rakyat China Melawan Agresi Jepang dan Balai Peringatan Korban Pembantaian Nanjing oleh Tentara Jepang.
Melihat lebih banyak catatan mengenai invasi Jepang ke China meninggalkan kesan yang mendalam baginya. "Setiap tempat memberikan dampak yang luar biasa bagi saya," ujarnya.
Sebagai mantan guru sekolah menengah pertama di Jepang, Kurahashi mengatakan bahwa masyarakat Jepang belum cukup merefleksikan sejarah perang tersebut.
Di ruang kelas di Jepang, para guru mungkin memberi tahu siswa tentang sejumlah tempat yang pernah menjadi lokasi pengerahan militer Jepang, ungkapnya, tetapi sering kali tidak menggali lebih dalam mengenai apa yang sebenarnya dilakukan pasukan Jepang di sana.
Kurahashi berharap Jepang akan menghadapi dan merefleksikan sejarah agresi yang dilakukannya, serta kata-kata yang terukir pada monumen permintaan maaf ayahnya dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.
Di tengah apa yang dia lihat sebagai pergeseran yang semakin condong ke kanan di Jepang dan kebangkitan "militerisme baru", Kurahashi semakin khawatir bahwa monumen tersebut dapat dirusak secara sengaja. Oleh karena itu, tahun ini dia memutuskan untuk menyumbangkan replika monumen itu kepada Changchun Normal University.
"'Apa yang lenyap dari pandangan mata kita juga akan lenyap dari hati kita', saya tidak ingin pepatah itu menjadi kenyataan suatu hari nanti," ujar Kurahashi.
"Saya sangat berharap monumen permintaan maaf ini tidak akan pernah dihancurkan dan akan tetap berdiri di sini selamanya, mengungkap kebenaran sejarah dan menjaga perdamaian dunia," tambahnya.
Selesai
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Direktur CDC sebut suntikan vaksin flu "sangat cocok" untuk galur influenza tahun ini
Indonesia
•
07 Dec 2022

LSPR Institute jalin kerjasama dengan Media Group Network
Indonesia
•
27 Oct 2022

Berita buatan AI makin mendominasi, ‘think tank’ Inggris desak pemerintah susun aturan
Indonesia
•
02 Feb 2026

Masyarakat Okinawa di Jepang tolak relokasi pangkalan militer AS
Indonesia
•
13 Sep 2022


Berita Terbaru

Wawancara – Di tengah kesibukan, orang tua tetap harus hadir untuk anak
Indonesia
•
20 Sep 2026

Karyawan International Green Industrial Park Morowali selamatkan tujuh korban insiden perahu terbalik
Indonesia
•
19 Sep 2026

Fokus Berita – Indonesia kekurangan 3 juta talenta teknologi, China-Indonesia siapkan kurikulum AI di 186 kampus
Indonesia
•
19 Sep 2026

Feature – Di batu nisan veteran Jepang ada permintaan maaf, jejak kelamnya ditemukan di China (Bagian 1 dari 2)
Indonesia
•
17 Sep 2026
