
Tim peneliti China identifikasi mekanisme pengatur kandungan vitamin E dan glukosinolat pada kanola

Para wisatawan menaiki kereta wisata mini untuk menikmati pemandangan bunga kanola di objek wisata Chongkan di Distrik Tongnan, Kota Chongqing, China barat daya, pada 9 Maret 2024. (Xinhua/Wang Quanchao)
Vitamin E merupakan nutrisi yang sangat penting bagi pertumbuhan serta perkembangan manusia dan hewan. Vitamin E memiliki peran dan fungsi penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menunda proses penuaan, mencegah kanker, dan sebagainya.
Wuhan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti dari China telah menemukan mekanisme molekuler di balik regulasi kandungan vitamin E dan glukosinolat pada kanola (rapeseed).Vitamin E merupakan nutrisi yang sangat penting bagi pertumbuhan serta perkembangan manusia dan hewan. Vitamin E memiliki peran dan fungsi penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menunda proses penuaan, mencegah kanker, dan sebagainya.Sebuah tim peneliti di Institut Penelitian Tanaman Minyak dari Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences) menggunakan analisis asosiasi seluruh genom untuk mendeteksi efek utama, dengan kode QTL-qVE.C02, yang berkaitan dengan kandungan vitamin E dalam populasi Brassica napus (nama ilmiah dari kanola).Melalui komplementasi genetik dan proses mutagenesis yang diarahkan ke lokasi spesifik, tim peneliti berhasil melakukan kloning terhadap gen target dari efek QTL-qVE.C02, dengan kode BnaC02.VTE4, dan mengidentifikasi sebuah mutasi titik yang menjadi penyebab langsung perbedaan kandungan vitamin E dan glukosinolat pada kanola.Tim tersebut juga menggabungkan tipe-tipe analisis untuk menjelaskan hubungan kompetitif antara jalur biosintesis vitamin E dan glukosinolat, serta mengungkap mekanisme molekuler di balik regulasi positif gen BnaC02.VTE4 dari vitamin E dan regulasi negatif glukosinolat pada kanola.Tim peneliti itu mengatakan bahwa studi mereka dapat berkontribusi terhadap pembiakan kanola dengan kandungan vitamin E tinggi dan kandungan glukosinolat rendah.Studi tersebut diterbitkan dalam Plant Biotechnology Journal.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 - UEA kembangkan teknologi tes cepat COVID-19 dengan laser
Indonesia
•
21 May 2020

Feature – Dari laboratorium pintar hingga ‘Chem-E-Car’, mahasiswa ITB belajar teknik kimia masa depan di China
Indonesia
•
25 Aug 2026

Satu set perhiasan emas kuno dari era Abbasiyah ditemukan di Arab Saudi
Indonesia
•
28 May 2026

Ilmuwan dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Beijing, lakukan ‘hackathon’ pemodelan Bumi
Indonesia
•
19 May 2025


Berita Terbaru

Alibaba gandeng Apple, AI Qwen China bakal hadir di iPhone melalui Apple Intelligence
Indonesia
•
01 Nov 2026

Feature – Belajar AI dan robotika di China, mahasiswa Indonesia bersiap jawab kebutuhan industri
Indonesia
•
30 Oct 2026

7 dari 10 tabir surya gagal penuhi klaim SPF, produk SPF50 ternyata hanya SPF14
Indonesia
•
31 Oct 2026

China luncurkan AI cuaca ekstrem, bisa prediksi potensi badai hingga 4 jam sebelumnya
Indonesia
•
31 Oct 2026
