
China mulai eksperimen pengindraan jauh gelombang mikro untuk vegetasi dan kelembapan tanah

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 5 Juli 2024 pagi waktu setempat ini menunjukkan pemandangan Taman Hutan Nasional Saihanba di Kota Chengde, Provinsi Hebei, China utara. (Xinhua/Liu Mancang)
Vegetasi memainkan peranan penting dalam perpindahan air antara daratan dan atmosfer, berperan tidak hanya sebagai reservoir sumber daya air terestrial tetapi juga sebagai pompa air alami.
Shijiazhuang, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China baru-baru ini memulai eksperimen pengindraan jauh (remote sensing) untuk vegetasi dan kelembapan tanah di Provinsi Hebei, China utara, menurut Institut Penelitian Informasi Kedirgantaraan (Aerospace Information Research/AIR) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China."Vegetasi memainkan peranan penting dalam perpindahan air antara daratan dan atmosfer, berperan tidak hanya sebagai reservoir sumber daya air terestrial tetapi juga sebagai pompa air alami," ujar Husi Letu, seorang peneliti dari AIR."Penelitian konvensional tentang perpindahan air terbatas pada skala mikro, yang membatasi pemahaman kita tentang keseimbangan air di seluruh ekosistem. Ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan metode teknologi modern yang mampu melakukan pengamatan pada skala spasial yang lebih besar," imbuhnya.Eksperimen tersebut, yang didasarkan pada sebuah platform penerbangan, utamanya memanfaatkan teknologi gelombang mikro untuk pengamatan yang akurat terhadap hutan, lahan pertanian, dan padang rumput di pertanian hutan mekanis Saihanba dan peternakan Yudaokou.Gelombang mikro memiliki kemampuan penetrasi yang kuat, sehingga memungkinkannya menembus awan dan vegetasi, dan dapat berfungsi secara normal bahkan pada malam hari dan dalam cuaca hujan."Melalui pengamatan sinergis gelombang mikro multisaluran, para peneliti dapat mendalami status kelembapan internal dan distribusi tanaman, serta secara cermat menganalisis seluruh proses perpindahan kelembapan dari tanah ke batang tanaman, melalui kanopi, dan ke atmosfer," ujar Zhao Tianjie, seorang peneliti dari AIR.Data yang diperoleh dari eksperimen itu akan digunakan untuk mengembangkan dan memverifikasi metode pengindraan jauh cerdas untuk parameter utama siklus air terestrial di berbagai skala spasial temporal (spatiotemporal), seperti kelembapan tanah, kelembapan tanaman, potensi air tanaman, uap air di atmosfer, dan evapotranspirasi.Para peneliti dapat merekam lebih lanjut perubahan kelembapan internal tanaman melalui teknologi kedirgantaraan, dan memahami interaksi yang kompleks antara pasokan kelembapan tanah dan kebutuhan air di atmosfer.Hasil eksperimen ini akan memberikan dukungan teknis bagi pemrosesan dan penerapan inovatif data pengamatan muatan baru untuk satelit domestik seperti satelit sumber daya air terestrial dan satelit pendeteksi salinitas laut.Hal ini akan memberikan dasar ilmiah untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan air tanah dan produktivitas air hutan, serta meningkatkan kapasitas konservasi dan pengaturan sumber daya air.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Stasiun luar angkasa China nantikan partisipasi astronaut asing
Indonesia
•
05 Jun 2023

Peneliti China dapatkan konsentrasi kolom karbon dioksida dengan teknologi radar laser
Indonesia
•
15 Jun 2023

China kembangkan perangkat sterilisasi UVC anti virus corona
Indonesia
•
06 Aug 2021

SpaceX batalkan peluncuran roket raksasa Starship akibat isu bahan bakar
Indonesia
•
19 Apr 2023


Berita Terbaru

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026

Pengelolaan ternak temporal solusi konflik manusia-satwa liar
Indonesia
•
12 Mar 2026
