
AS-UE capai kesepakatan perdagangan di tengah kekhawatiran tarif tidak seimbang

Foto yang diabadikan pada 23 Mei 2025 ini menunjukkan bendera Uni Eropa di kantor pusat Komisi Eropa di Brussel, Belgia. (Xinhua/Zhao Dingzhe)
Trump mengklaim perjanjian perdagangan AS-EU akan memungkinkan mobil-mobil Amerika kembali memasuki pasar Eropa dan membuat ekspor pertanian AS lebih mudah diakses di UE.
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Ahad (27/7) mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan perdagangan yang memungkinkan AS mengenakan tarif dasar sebesar 15 persen pada barang-barang Uni Eropa (UE).Pengumuman tersebut disampaikan dalam konferensi pers gabungan pada Ahad sore setelah perundingan di Trump Turnberry, South Ayrshire, Skotlandia.Meskipun kedua pemimpin menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai langkah menuju pemulihan "keseimbangan perdagangan" dan mendorong perdagangan dua arah yang lebih adil, perjanjian tersebut memungkinkan AS untuk mengenakan tarif sebesar 15 persen terhadap barang-barang UE sekaligus mengamankan akses tarif nol untuk berbagai ekspor strategis Amerika. Sebaliknya, UE sepakat untuk membeli produk energi AS senilai 750 miliar dolar AS dan berkomitmen menambah investasi sebesar 600 miliar dolar AS di Amerika Serikat.*1 dolar AS = 16.283 rupiahDalam konferensi pers tersebut, Trump mengklaim perjanjian itu akan memungkinkan mobil-mobil Amerika kembali memasuki pasar Eropa dan membuat ekspor pertanian AS lebih mudah diakses di UE. Dia juga mengatakan bahwa produk farmasi dikecualikan dari kesepakatan tersebut, sementara tarif 50 persen yang berlaku saat ini untuk ekspor baja dan aluminium UE ke AS akan tetap berlaku.Namun, dalam konferensi pers terpisah, von der Leyen mengklarifikasi bahwa UE dan AS sepakat untuk memasukkan produk farmasi ke dalam kerangka tarif 15 persen. Dia tidak menutup kemungkinan adanya tindakan perdagangan lebih lanjut dari AS di masa mendatang.Ketika ditanya apakah tarif 15 persen bagi produsen mobil UE, yang naik dari 2,5 persen di bawah pemerintahan Biden, merupakan hasil yang menguntungkan, von der Leyen menjawab bahwa, sebelum kesepakatan ini, kendaraan Eropa dikenakan tarif sebesar 27,5 persen ketika memasuki pasar AS. Tarif ini termasuk pungutan sebesar 25 persen yang diberlakukan pada masa jabatan Trump sebelumnya, di samping tarif awal sebesar 2,5 persen. Dia berpendapat bahwa tarif baru sebesar 15 persen ini merupakan penurunan dari tarif tersebut.Bernd Lange, ketua Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa, mengkritik kesepakatan yang baru dicapai tersebut sebagai hal yang "tidak memuaskan" dan "sangat tidak seimbang," seraya memperingatkan bahwa hal itu dapat merusak stabilitas ekonomi dan keamanan kerja UE."Ini adalah kesepakatan yang bias. Jelas, konsesi yang telah dibuat sulit untuk diterima," kata Lange dalam sebuah pernyataan pada Ahad.Sebelum perjanjian tersebut, lebih dari 70 persen ekspor UE ke AS dikenakan tarif, termasuk 50 persen untuk baja dan aluminium, 25 persen untuk mobil dan suku cadangnya, serta bea 10 persen untuk sebagian besar barang lainnya. Trump telah memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan yang dicapai pada 1 Agustus, tarif 10 persen akan dinaikkan menjadi 30 persen.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Disney PHK ratusan karyawan lagi, Pixar paling terdampak
Indonesia
•
22 Jul 2026

Bank Dunia siapkan opsi dukung Ukraina atas dampak ekonomi konflik
Indonesia
•
25 Feb 2022

Industri semikonduktor sumbang 30 persen ekspor Taiwan
Indonesia
•
10 Jan 2021

Kirim 735 pesawat komersial, Airbus lampaui target 2023
Indonesia
•
12 Jan 2024


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
