Transaksi bisnis Indonesia-China di Trade Expo tembus 1,62 triliun rupiah, potensi perdagangan capai 3,61 kuadriliun rupiah

Foto yang diabadikan pada 1 Desember 2017 ini menunjukkan Pulau Shamian di Guangzhou, Provinsi Guangdong, China selatan. (Xinhua/Jin Liwang)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou mencatat transaksi bisnis senilai 90 juta dolar AS pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, yang diselenggarakan pada 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang.

*1 dolar AS = 18.047 rupiah

Lima kesepakatan kerja sama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan China selatan yang telah ditandatangani itu mencakup sejumlah sektor seperti kosmetik, energi, kawasan industri, teknologi informasi, dan lainnya.

KJRI Guangzhou juga mencatat potensi perdagangan biji kopi luwak senilai lebih dari 74.000 dolar AS.

Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun dalam sesi Indonesia-China Business Forum bertajuk ‘Peluang Baru, Koneksi yang Lebih Kuat, dan Kemitraan yang Semakin Mendalam’ (New Opportunities, Stronger Connections, and Deepening Partnership) menyoroti tiga poin utama.

Pertama, kemitraan Indonesia dan China menjadi contoh diplomasi yang membawa manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kedua, pelaku usaha China memainkan peran strategis dalam mewujudkan diplomasi yang membawa manfaat nyata. Ketiga, dia optimistis bahwa kerja sama perdagangan antara kedua negara terus menguat ke depannya.

"Kami meyakini kerja sama perdagangan Indonesia-China akan terus menguat dengan nilai yang dapat mencapai lebih dari 200 miliar dolar AS," kata Djauhari dalam forum tersebut, seperti dikutip pada Jumat (23/10).

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri mengapresiasi delegasi bisnis China yang menghadiri TEI 2026.

Menurutnya, hal ini mencerminkan kepercayaan terhadap potensi ekonomi di Indonesia sekaligus menunjukkan hubungan perdagangan kedua negara memiliki ruang luas untuk dikembangkan.

Dia menuturkan, Indonesia memiliki beragam produk unggulan yang berpotensi memenuhi kebutuhan pasar China, mulai dari produk pertanian dan pangan olahan, kopi, kakao, rempah-rempah, produk perikanan, serta produk manufaktur dan berbagai komoditas bernilai tambah lainnya.

Dyah juga melihat peluang untuk memperkuat kemitraan Indonesia-China melalui pengembangan rantai pasokan, kerja sama industri, transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas produksi, dan pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen serta mendorong kemitraan perdagangan kedua negara yang semakin seimbang, produktif, dan berorientasi jangka panjang.

Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia dengan China selatan mencapai 48,7 miliar dolar AS atau 30 persen dari total perdagangan Indonesia-China.

Pada periode yang sama, China selatan menyumbang 30 persen dari total investasi antara Indonesia dan China, yang mencapai 7,5 miliar dolar AS.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait