
American Airlines Rugi 4,85 triliun rupiah meski pendapatan cetak rekor

Truk pengisian bahan bakar terlihat di Bandara LaGuardia, New York, Amerika Serikat, pada 23 April 2026. (Xinhua/Zhang Fengguo)
New York City, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Saat maskapai-maskapai besar Amerika Serikat (AS) melaporkan hasil operasional kuartal ketiga (Q3) 2026 mereka, kenaikan biaya bahan bakar menekan margin keuntungan, meskipun permintaan perjalanan kuat.
Meski pendapatan mencetak rekor dan permintaan perjalanan kuat, biaya operasional yang lebih tinggi terus menggerus keuntungan dan melemahkan ekspektasi laba menjelang kuartal terakhir 2026.
American Airlines melaporkan rugi bersih sebesar 269 juta dolar AS pada Q3 2026, meskipun membukukan rekor pendapatan sebesar 16,3 miliar dolar AS.
*1 dolar AS = 18.047 rupiah
Biaya bahan bakarnya naik 1,9 miliar dolar AS, atau 67,5 persen, dengan rata-rata biaya bahan bakar sebesar 3,85 dolar AS per galon.
Maskapai tersebut memperkirakan akan membayar 4,7 dolar AS per galon pada kuartal keempat (Q4) 2026, hampir dua kali lipat harga yang dibayar pada Q4 2025, dengan beban bahan bakar kuartalan diproyeksikan naik sekitar 2,8 miliar dolar AS secara tahunan (year on year/yoy).
American Airlines juga menurunkan proyeksi setahun penuh, dengan memperkirakan kerugian yang disesuaikan sebesar 1 hingga 1,6 dolar AS per saham, dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu rugi 65 sen hingga laba 65 sen per saham.
Sementara itu, Southwest Airlines melaporkan tantangan serupa pada Rabu (21/10), meskipun laba Q3-nya melampaui ekspektasi Wall Street.
Maskapai yang berbasis di Dallas itu membukukan laba bersih sebesar 270 juta dolar AS dengan pendapatan operasional naik 21,2 persen menjadi 8,4 miliar dolar AS, rekor Q3 bagi perusahaan, menurut siaran pers Southwest Airlines.
Namun, beban bahan bakar Southwest Airlines naik 821 juta dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan biaya bahan bakar Q3-nya mencapai 3,92 dolar AS per galon, di atas asumsi sebelumnya yang sebesar 3,7-3,75 dolar AS per galon.
"Permintaan tetap kuat seiring kami melewati periode penerapan biaya bagasi tahun lalu dan inisiatif komersial lainnya, yang memperkuat keyakinan kami bahwa kekuatan laba yang telah kami bangun bersifat tahan lama, bahkan dengan biaya bahan bakar yang jauh lebih tinggi," kata CEO Southwest Airlines Bob Jordan dalam siaran pers mengenai pendapatan Q3 2026 perusahaan tersebut. "Kami tetap yakin akan kemampuan kami untuk memperkuat laba, meningkatkan imbal hasil, dan memperluas margin seiring waktu."
Southwest Airlines mengasumsikan biaya bahan bakar Q4 2026 sekitar 4,55 dolar AS per galon, berdasarkan kurva berjangka (forward curve) per 15 Oktober 2026.
United Airlines pada Selasa (20/10) melaporkan pendapatan Q3 2026 sebesar 17,9 miliar dolar AS, naik 17,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan laba bersih mencapai 1 miliar dolar AS.
Namun, beban bahan bakarnya naik 1,8 miliar dolar AS, atau 62 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut laporan laba Q3 2026 perusahaan tersebut.
United Airlines memperkirakan akan membayar sekitar 4,8 dolar AS per galon untuk bahan bakar pada Q4 2026, dibandingkan 3,9 dolar AS pada Q3 2026. Maskapai tersebut memproyeksikan laba yang disesuaikan sebesar 50 sen hingga 1,5 dolar AS per saham untuk Q4 2026, di bawah ekspektasi Wall Street.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Harga minyak melonjak karena persediaan AS menurun
Indonesia
•
31 Mar 2022

McDonald's bukukan kenaikan laba bersih pada Q4 2022
Indonesia
•
01 Feb 2023

Warga asing diizinkan jalankan perusahaan milik Saudi
Indonesia
•
07 Jan 2021

Kemnaker dan Huawei Indonesia sepakat tingkatkan kompetensi digital di Tanah Air
Indonesia
•
28 May 2026


Berita Terbaru

Feature: Dari lapak Bogor ke pasar China, ekspor kelapa Indonesia apai 44,9 triliun rupiah
Indonesia
•
23 Oct 2026

AI berpotensi dongkrak pertumbuhan ekonomi Timur Tengah dan Asia Tengah
Indonesia
•
23 Oct 2026

Fokus Berita – Investasi 540 miliar rupiah di ITB, kolaborasi Indonesia-China kembangkan talenta metalurgi
Indonesia
•
23 Oct 2026

Perekonomian APEC serukan penghapusan hambatan perdagangan
Indonesia
•
24 Oct 2026
