Terobsesi dengan selebritas, itu tanda kamu haus figur panutan

Ilustrasi. (camilo jimenez on Unsplash)

Ketertarikan manusia terhadap selebritas sebenarnya berakar pada naluri lama manusia untuk mencari figur panutan.

 

Layar Instagram, TikTok, atau X pasti dipenuhi wajah-wajah terkenal: penyanyi, aktor, atlet, influencer, hingga tokoh publik yang setiap gerak-geriknya selalu menarik perhatian.

Banyak warganet mengikuti kehidupan mereka, membicarakan hubungan asmara mereka, menunggu unggahan terbaru mereka mulai dari yang paling receh hingga yang ‘sampah’ sekali pun, bahkan merasa ikut sedih atau bahagia atas apa yang mereka alami.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan iseng di era digital. Menurut Dr. Paul Harrison, pakar perilaku konsumen dan budaya dari Deakin University Australia, ketertarikan manusia terhadap selebritas sebenarnya berakar pada naluri lama manusia untuk mencari figur panutan.

“Dulu ada raja, ratu, atau pemimpin agama sebagai pusat perhatian dan otoritas. Kini, posisi itu banyak digantikan oleh selebritas,” jelasnya.

Di masa lalu, kehidupan tokoh terkenal terasa jauh dan sulit dijangkau. Namun media modern mengubah semuanya. Acara gosip, reality show, portal hiburan, hingga media sosial membuat publik merasa bisa ‘mengintip’ kehidupan pribadi para figur terkenal itu dari jarak sangat dekat.

Instagram memperlihatkan rutinitas pagi seorang artis. TikTok menampilkan sisi santai seorang atlet dunia. YouTube membuka pintu rumah para influencer. Kedekatan semu inilah yang membuat hubungan publik dengan selebritas terasa lebih personal dibanding sebelumnya.

Padahal, yang dilihat publik sebenarnya hanyalah potongan-potongan kehidupan yang sudah dipilih dan dikemas untuk ditampilkan.

Menurut Dr. Harrison, manusia pada dasarnya selalu mencari cara untuk memperbaiki hidupnya—dan takut menjadi sosok yang tidak dianggap. Karena itu, banyak orang menjadikan selebritas sebagai simbol kehidupan ideal.

Kita melihat mereka sukses, dikagumi, kaya, berpengaruh, lalu secara tidak sadar berpikir: ‘Mungkin hidup seperti itu juga bisa saya capai.’

“Orang ingin merasa berada di jalur yang benar. Mengikuti figur yang dianggap sukses memberi ilusi bahwa kita juga sedang bergerak menuju kehidupan yang lebih baik,” katanya.

Di sinilah budaya fandom berkembang sangat kuat. Menjadi bagian dari komunitas penggemar memberi rasa memiliki, rasa diterima, dan identitas sosial. Seseorang bukan hanya menyukai artis tertentu, tetapi juga merasa menjadi bagian dari suatu ‘kelompok’.

Fenomena ini bisa terlihat dari fanbase musik, komunitas penggemar drama, hingga pengikut fanatik tokoh politik. Dalam banyak kasus, loyalitas tersebut bahkan menyerupai pola psikologis dalam kelompok kultus: ada figur pusat, ada pengikut setia, dan ada kebutuhan emosional untuk tetap merasa terhubung.

Namun kekaguman terhadap selebritas justru bisa membuat seseorang ‘sakit’.

Dalam psikologi populer dikenal istilah ‘celebrity worship syndrome’, yaitu kondisi ketika rasa kagum berubah menjadi obsesi berlebihan. Meski belum diakui sebagai diagnosis klinis resmi, kondisi ini dianggap memiliki pola perilaku obsesif dan adiktif.

Orang yang mengalami kondisi ini bisa menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengikuti aktivitas selebritas favoritnya. Mereka rela begadang demi siaran langsung, terus-menerus memantau unggahan terbaru, hingga mengabaikan hubungan sosial di dunia nyata.

Dalam beberapa kasus, obsesi itu memengaruhi hubungan pribadi. Pasangan dibanding-bandingkan dengan figur idolanya. Kehidupan nyata terasa kurang menarik dibanding dunia selebritas yang tampak glamor di media sosial.

Tidak sedikit pula yang kemudian terdorong mengubah penampilan fisik agar menyerupai idolanya, mulai dari gaya berpakaian hingga prosedur kosmetik.

Ironisnya, semakin seseorang membandingkan dirinya dengan kehidupan ‘sempurna’ para selebritas, semakin besar kemungkinan dia merasa kurang puas terhadap dirinya sendiri.

Haus figur panutan

Obsesi terhadap selebritas sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hiburan. Hal ini mencerminkan kebutuhan manusia untuk merasa terhubung, diakui, dan memiliki arah dalam hidup.

Ketika institusi tradisional seperti agama, keluarga besar, atau komunitas sosial mulai kehilangan pengaruh dalam kehidupan modern, banyak orang mencari figur baru untuk dijadikan acuan. Selebritas kemudian hadir mengisi ruang itu.

Masalahnya, kehidupan yang kita lihat di layar belum tentu nyata sepenuhnya. Media sosial sering kali hanya menampilkan versi terbaik, paling memesona, dan paling membahagiakan dari kehidupan seseorang.

Namun, mungkin di situlah paradoks terbesar budaya selebritas hari ini: manusia mengejar gambaran hidup yang bahkan belum tentu benar-benar ada.

Laporan: Redaksi

Sumber: https://this.deakin.edu.au/society/why-are-we-so-obsessed-with-celebrities/

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait