
Ilmuwan Australia temukan protein yang bisa bantu lawan kanker dan perlambat penuaan

Ilustrasi. (CDC on Unsplash)
Telomerase membantu memelihara ujung kromosom, yang dikenal sebagai telomer, yang sangat penting untuk stabilitas genetik.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan Australia berhasil mengidentifikasi sekelompok protein yang dapat mengubah pendekatan dalam pengobatan kanker dan penyakit terkait usia.Tim peneliti di Institut Penelitian Medis Anak (Children's Medical Research Institute/CMRI) di Sydney menemukan bahwa protein-protein tersebut memainkan peran krusial dalam mengendalikan telomerase, enzim yang bertanggung jawab melindungi DNA selama pembelahan sel, demikian menurut sebuah pernyataan baru-baru ini oleh CMRI, yang memimpin penelitian tersebut.Terobosan ini mengklarifikasi cara telomerase mendukung penuaan yang sehat dan mendorong pertumbuhan sel kanker. Temuan ini menyoroti kemungkinan baru untuk pengobatan yang memperlambat penuaan atau menghentikan kanker dengan menargetkan protein-protein yang baru teridentifikasi tersebut.Telomerase membantu memelihara ujung kromosom, yang dikenal sebagai telomer, yang sangat penting untuk stabilitas genetik. Telomerase esensial untuk kesehatan sel punca dan sel kekebalan tertentu, sedangkan sel kanker kerap kali memanfaatkan telomerase untuk berkembang secara tidak terkendali, ungkap studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications itu.Tim dalam penelitian ini menemukan bahwa tiga protein, yakni NONO, SFPQ, dan PSPC1, memandu telomerase ke ujung kromosom. Mengganggu protein-protein tersebut di dalam sel kanker bisa mencegah pemeliharaan telomer, sehingga berpotensi menghentikan pertumbuhan sel kanker."Temuan kami menunjukkan bahwa protein-protein tersebut bertindak seperti pengendali lalu lintas molekuler, memastikan telomerase mencapai tujuan yang tepat di dalam sel," ujar Alexander Sobinoff, peneliti utama dalam studi tersebut.Hilda Pickett, kepala Unit Regulasi Panjang Telomer di CMRI sekaligus peneliti senior dalam studi ini, menyatakan bahwa memahami cara telomerase dikendalikan bisa membuka berbagai peluang baru untuk mengembangkan pengobatan yang menargetkan kanker, penuaan, dan kelainan genetik yang berkaitan dengan disfungsi telomer.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Mayoritas warga Singapura gunakan ‘chatbot’ AI untuk tugas, bukan pertemanan
Indonesia
•
22 Jan 2026

Helikopter Apache Boeing capai 5 juta jam terbang
Indonesia
•
03 Mar 2023

LIPI temukan dua spesies baru anggrek dari Papua dan Sulawesi
Indonesia
•
04 Nov 2019

Astronaut Shenzhou-18 China tuntaskan serah terima, segera kembali ke Bumi pada Senin
Indonesia
•
03 Nov 2024


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
