
Telaah – Xi ke Washington, Pertanyaan besarnya: Bisakah China-AS lolos dari ‘Thucydides Trap’? (Bagian 2 - selesai)

Sejumlah pelajar China dan Amerika Serikat berfoto bersama di Kebun Binatang Shijiazhuang di Shijiazhuang, Provinsi Hebei, Tiongkok utara, pada 21 April 2024. (Xinhua/Liu Zunshuan)
Hubungan ekonomi dan perdagangan harus terus dijadikan ‘penyeimbang’ dan kekuatan pendorong bagi hubungan China-AS, alih-alih menjadi batu sandungan atau titik gesekan, tutur Xi kepada Trump di Busan, Korea Selatan, pada 2025.
Xi kerap mengibaratkan hubungan China-AS sebagai sebuah kapal raksasa, di mana penyeimbang sangat penting untuk menjaga kapal tetap berada di jalurnya saat mengarungi perairan yang bergejolak.
Menyusul lonjakan tarif AS pada 2025, Beijing merespons dengan langkah-langkah balasan yang tegas seraya tetap melanjutkan negosiasi dengan Washington dalam upaya untuk mengatasi perbedaan di antara kedua belah pihak.
Pada saat Xi dan Trump bertemu di Beijing, tim ekonomi dan perdagangan kedua pihak telah mencapai "hasil yang secara umum seimbang dan positif."
Dialog tersebut terus berlanjut sejak saat itu, dengan putaran perundingan terbaru mereka yang berlangsung secara terbuka, mendalam, dan konstruktif, berakhir di New York pada Ahad (20/9).
Xi berulang kali menekankan, baik dalam komunikasinya dengan Trump maupun di panggung internasional, bahwa tidak ada pemenang dalam perang dagang. "Fakta akan membuktikan bahwa pemisahan dan pemutusan rantai pasokan tidak akan menghambat proses pembangunan kami, sementara menerapkan 'halaman kecil, pagar tinggi' hanya akan mengungkung diri sendiri dan memecah belah dunia," tutur Xi dalam KTT BRICS yang baru saja berakhir di New Delhi.
Pesan tersebut juga menjadi inti dari upaya Xi menjalin komunikasi dengan kalangan bisnis AS. Pada Maret 2024, Xi bertemu dengan perwakilan dari komunitas bisnis, strategis, dan akademisi AS di Beijing. Dalam pertemuan tersebut, Xi mengatakan bahwa keberhasilan masing-masing pihak, China dan AS, merupakan peluang bagi satu sama lain.
Dalam kunjungan pada Mei tersebut, Xi bertemu dengan Trump di Balai Agung Rakyat di Beijing, didampingi oleh lebih dari 12 eksekutif dari perusahaan-perusahaan terkemuka AS, termasuk Apple, Nvidia, Tesla, dan Boeing.
Trump memperkenalkan para pemimpin bisnis tersebut kepada Xi satu per satu, yang menegaskan betapa pentingnya delegasi tersebut bagi dirinya.
"Kedua pihak, AS dan China, memiliki kepentingan besar dalam stabilitas strategis yang konstruktif," kata Robert Lawrence Kuhn, seorang akademisi AS yang juga telah lama menjadi pengamat China.
Mulai dari kecerdasan buatan (AI) dan mitigasi perubahan iklim hingga kesehatan masyarakat dan pemberantasan narkoba, ada banyak isu yang melibatkan China dan AS, imbuhnya.
Alih-alih berharap Washington dan Beijing tiba-tiba dapat bekerja sama dengan sempurna, Kuhn mengatakan bahwa tujuan yang lebih mendesak seharusnya adalah mencegah perselisihan terkait tarif, mineral kritis, dan isu-isu lainnya yang dapat memicu eskalasi lebih lanjut.
Menjembatani Samudra Pasifik
"Persahabatan, yang tumbuh dari hubungan erat antarmasyarakat, merupakan kunci bagi hubungan antarnegara yang sehat," kata Xi. Baginya, fondasi hubungan China-AS dibangun oleh rakyat kedua negara.
Setelah kunjungan Xi ke AS secara resmi diumumkan pada Senin (21/9), tanggapan terbarunya terhadap para mahasiswa AS dipublikasikan. Dalam suratnya, Xi mendorong mereka untuk membangun pemahaman bersama dan ikatan yang lebih erat antara masyarakat kedua negara, serta mendorong perkembangan hubungan bilateral yang stabil dan berkelanjutan.
Ketika hubungan China-AS berada di titik terendah, Xi mengarahkan pandangannya ke masa depan, yaitu kaum muda. Menurutnya, kaum muda memikul masa depan dan harapan bagi hubungan tersebut.
Dalam kunjungannya ke San Francisco pada 2023 untuk menghadiri pertemuan para pemimpin APEC, Xi mengumumkan sebuah inisiatif untuk mengundang 50.000 anak muda AS ke China guna mengikuti program pertukaran dan studi selama lima tahun ke depan. Pada Mei tahun ini, target tersebut telah tercapai dua setengah tahun lebih cepat dari jadwal.
Banyak partisipan menulis surat kepada Xi untuk menyampaikan terima kasih atas kesempatan melihat China secara langsung dan menjalin persahabatan dengan rekan-rekan mereka di China. Sebagai tanggapan, Xi mendorong kaum muda dari kedua negara untuk menjadi "utusan persahabatan" yang menjembatani Samudra Pasifik.
Survei Musim Panas Reagan Institute 2026 menemukan bahwa warga AS dari kelompok usia yang lebih muda secara signifikan lebih kecil kemungkinannya memandang China sebagai ancaman besar bagi AS.
Penekanan pada hubungan antarmasyarakat tersebut tidak hanya ditujukan kepada generasi muda. Selama beberapa dekade, Xi tetap menjalin kontak dengan teman-teman lamanya di Iowa, yang pertama kali ditemuinya dalam kunjungan perdananya ke AS pada 1985, serta berkirim surat dengan para veteran Flying Tigers dari Perang Dunia II, seraya mengenang ikatan yang terjalin di antara kedua bangsa pada masa tersebut.
"Kita harus membangun lebih banyak jembatan dan membuka lebih banyak jalan bagi interaksi antarmasyarakat," tutur Xi pada suatu kesempatan. "Kita tidak boleh mendirikan penghalang atau menciptakan suasana yang membuat orang enggan berinteraksi."
Menjelang kunjungan Xi ke AS, kisah persahabatan lainnya antara masyarakat di kedua sisi Samudra Pasifik menjadi viral di dunia maya.
Pada 1999, Ronald Sakolsky, guru asal AS, menyumbang 5.000 dolar AS untuk mendukung upaya penanaman pohon yang dilakukan oleh seorang wanita China bernama Yin Yuzhen guna mengatasi desertifikasi di Mongolia Dalam, China utara. Dengan dana tersebut, Yin kemudian berhasil membudidayakan hutan yang terdiri atas lebih dari 50.000 pohon.
*1 dolar AS = 17.813 rupiah
Ketika Sakolsky dan Yin bertemu kembali di China pada Agustus, dia ditanya pesan apa yang ingin dibawanya pulang ke AS. Jawabannya adalah: "Jembatan."
Sakolsky mengatakan dirinya meyakini pertemuan antara Presiden Xi dan Presiden Trump dapat membantu membangun jembatan tersebut.
"China siap membangun kembali jembatan tersebut," kata Sakolsky. "Apakah AS siap? Saya yakin begitu."
Selesai
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ekonomi Saudi tumbuh tanpa minyak di tahun 2020
Indonesia
•
27 Jan 2020

China kecam AS terkait kontrol ekspor cip dan pembatasan industri semikonduktor China
Indonesia
•
09 Jan 2024

Inisiatif Hijau Timur Tengah akan tanam 40 miliar pohon di kawasan
Indonesia
•
28 Mar 2021

Kepala militer Israel sebut pihaknya akan tingkatkan persiapan untuk operasi darat di Lebanon
Indonesia
•
29 Sep 2024


Berita Terbaru

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026

Telaah – Xi ke Washington, Pertanyaan besarnya: Bisakah China-AS lolos dari ‘Thucydides Trap’? (Bagian 1 dari 2)
Indonesia
•
23 Sep 2026

Iran punya teknologi rudal jarak jauh, IRGC klaim uji coba hantam kapal induk AS sejauh 500 km
Indonesia
•
23 Sep 2026

Trump tolak aturan AI dunia, PBB peringatkan agen AI mulai bertindak di luar kendali
Indonesia
•
23 Sep 2026
