
Telaah – Xi ke Washington, Pertanyaan besarnya: Bisakah China-AS lolos dari ‘Thucydides Trap’? (Bagian 1 dari 2)

Presiden China Xi Jinping menyambut Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat kedatangan Trump di Zhongnanhai di Beijing, ibu kota China, pada 15 Mei 2026. (Xinhua/Li Xiang)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden China Xi Jinping dijadwalkan melakukan perjalanan ke Washington untuk kunjungan kenegaraan dan pertemuan penting dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dengan kunjungan tersebut, kedua presiden diperkirakan akan menyelesaikan rangkaian kunjungan timbal balik dalam beberapa bulan. Perjalanan mendatang itu akan menjadi kunjungan kenegaraan kedua Xi ke AS setelah kunjungan pertamanya pada 2015.
Setelah lebih dari satu dekade berlalu, hubungan bilateral paling penting di dunia itu telah melalui perjalanan penuh gejolak. Bagaimana Beijing dan Washington mengelola hubungan, serta menemukan ruang untuk bekerja sama, kini semakin berpengaruh bagi kedua negara dan dunia.
Visi baru
Pada Mei, saat Xi menjamu Trump di Beijing, dia membuka pembicaraan mereka dengan tiga pertanyaan.
"Apakah China dan AS dapat mengatasi Perangkap Thucydides (Thucydides Trap), serta menciptakan paradigma baru hubungan antara negara-negara besar? Apakah kita dapat bersama-sama menghadapi tantangan global dan memberikan stabilitas yang lebih besar bagi dunia? Apakah kita dapat bersama-sama membangun masa depan yang cerah bagi hubungan bilateral kita demi kesejahteraan kedua bangsa dan masa depan umat manusia?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dikemukakan dengan latar belakang hubungan bilateral yang bergejolak selama bertahun-tahun, mulai dari sengketa dagang hingga pembatasan teknologi.
Xi telah berulang kali menekankan perlunya menemukan cara yang tepat agar kedua negara besar di dunia itu dapat berhubungan baik.
Pertemuan tingkat tinggi di Beijing itu memberikan momentum baru bagi upaya tersebut. Xi dan Trump telah menyepakati sebuah visi baru untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif dengan stabilitas strategis selama tiga tahun ke depan dan seterusnya.
"Hal tersebut menandai pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade bagi China dan AS mencapai konsensus mengenai cara mendefinisikan hubungan yang secara luas diakui oleh para pemimpin dari kedua belah pihak," ujar Da Wei, direktur Pusat Keamanan dan Strategi Internasional Universitas Tsinghua.
Selama beberapa waktu, hubungan China-AS berjalan di jalur yang ditetapkan oleh kedua pemimpin tersebut. "Diplomasi kepala negara merupakan jangkar hubungan China-AS," ungkap Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi pada Kamis (17/9) dalam panggilan telepon dengan Menlu AS Marco Rubio sebagai bagian dari persiapan pertemuan mendatang itu.
Sejak Trump terpilih kembali, Xi terus menjalin komunikasi dengannya melalui berbagai cara, seperti pertemuan tatap muka dan panggilan telepon, yang terkadang berlangsung dalam format kasual.
Dalam kunjungan pada Mei lalu, Xi mengundang Trump ke Zhongnanhai, kompleks kepemimpinan di pusat kota Beijing, untuk melakukan pertemuan tertutup, sebuah undangan yang diberikan hanya kepada segelintir pemimpin asing.
Xi dan Trump berjalan-jalan di taman kompleks tersebut, mengobrol, dan sesekali berhenti sejenak untuk mengagumi pohon-pohon kuno yang menjulang tinggi serta bunga-bunga mawar China yang sedang bermekaran.
"Sementara Presiden Trump berharap dapat menjadikan Amerika kembali hebat, saya berkomitmen untuk memimpin rakyat China menuju peremajaan nasional," tutur Xi saat kedua pemimpin itu duduk bersama untuk berbincang sambil minum teh.
Xi mendorong kedua belah pihak untuk tetap menuju ke arah yang benar, menghindari gangguan, dan mendorong perkembangan hubungan bilateral yang stabil.
Momen-momen di luar meja pertemuan formal seperti itu telah menjadi ciri khas dari interaksi Xi dengan Trump, yang memberikan suasana lebih personal untuk saling memahami negara serta sudut pandang satu sama lain.
Interaksi serupa sudah berlangsung sejak pertemuan pertama Xi dengan Trump pada 2017. Di Mar-a-Lago, kediaman pribadi Trump di Florida, Xi memberinya sebuah karya kaligrafi Tionghoa yang bertuliskan pepatah kuno, "Menara sembilan lantai berawal dari setumpuk tanah; perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah."
Pesan tersebut mengandung sebuah metafora mengenai hubungan yang menurut harapan Xi dapat dibangun oleh kedua negara. Dia menyampaikan kepada Trump bahwa kedua pemimpin dapat menggalang dukungan dari orang-orang di kedua negara yang memiliki iktikad baik dan antusiasme untuk memajukan hubungan China-AS, serta membangun hubungan tersebut selapis demi selapis, sehingga menjadikannya lebih kuat, lebih tinggi, dan lebih gemilang.
Bersambung ke bagian 2
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Fokus Berita – Pembangunan China peluang bagi dunia, namun disambut sanksi Barat
Indonesia
•
28 Feb 2024

Warga Australia rugi miliaran dolar akibat penipuan kartu kredit
Indonesia
•
24 Mar 2024

COVID-19 – Lebih 55 persen penduduk dewasa Malaysia terima vaksinasi penuh
Indonesia
•
23 Aug 2021

Trump Resmi tandatangani RUU One Big Beautiful Bill
Indonesia
•
09 Jul 2025


Berita Terbaru

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026

Telaah – Xi ke Washington, Pertanyaan besarnya: Bisakah China-AS lolos dari ‘Thucydides Trap’? (Bagian 2 - selesai)
Indonesia
•
23 Sep 2026

Iran punya teknologi rudal jarak jauh, IRGC klaim uji coba hantam kapal induk AS sejauh 500 km
Indonesia
•
23 Sep 2026

Trump tolak aturan AI dunia, PBB peringatkan agen AI mulai bertindak di luar kendali
Indonesia
•
23 Sep 2026
