
Tim ilmuwan China kembangkan ‘terapi presisi’ untuk ‘hidupkan kembali’ baterai litium lama

Foto yang diabadikan pada 2 September 2024 ini menunjukkan bagian dari baterai logam litium solid-state di Yibin, Provinsi Sichuan, China barat daya. (Xinhua/Tang Wenhao)
Teknologi terapi presisi revolusioner yang dapat memberikan kehidupan baru bagi baterai litium-ion yang sudah tua atau habis, menawarkan solusi berkelanjutan untuk memperpanjang masa pakai baterai dan mengurangi pencemaran lingkungan.
Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan China berhasil mengembangkan teknologi ‘terapi presisi’ revolusioner yang dapat memberikan kehidupan baru bagi baterai litium-ion yang sudah tua atau habis, menawarkan solusi berkelanjutan untuk memperpanjang masa pakai baterai dan mengurangi pencemaran lingkungan.Penelitian yang dipimpin oleh Peng Huisheng dan Gao Yue dari Universitas Fudan ini diterbitkan pada Kamis (13/2) dalam jurnal Nature.Ketika baterai litium-ion kehilangan kapasitasnya karena menipisnya ion litium aktif, baterai tersebut sering kali dibuang karena tidak dapat diperbaiki. Namun, tim tersebut telah mengembangkan pendekatan baru yang terinspirasi dari pengobatan medis.Mereka merancang molekul pembawa litium, yang dapat disuntikkan ke dalam baterai yang rusak untuk secara tepat mengisi kembali ion litium yang hilang."Sama seperti mengobati penyakit manusia, kami berfokus pada perbaikan masalah inti baterai, sembari menjaga komponen-komponen yang sehat," jelas Gao.Mendesain molekul pembawa litium merupakan tantangan yang signifikan. Tanpa adanya format terdahulu yang bisa diikuti, tim itu menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Dengan mendigitalkan sifat-sifat molekuler dan memanfaatkan kumpulan data yang besar dan mencakup kimia organik, elektrokimia, dan rekayasa material, mereka menggunakan teknologi pembelajaran mesin (machine learning) untuk memprediksi kandidat yang layak.CF3SO2Li muncul sebagai solusi ideal karena sejumlah karakteristik utamanya, seperti biaya rendah, kemudahan sintesis, dan kompatibilitas dengan material baterai mainstream.Dalam pengujian yang ketat, baterai yang menjalani terapi molekuler tetap mempertahankan kinerja yang mendekati baterai pabrik bahkan setelah 12.000 hingga 60.000 siklus pengisian-pengosongan, menandai peningkatan signifikan dibanding standar industri saat ini, yaitu 500-2.000 siklus."Solusi baru ini tidak hanya menunda masa pensiun baterai, tetapi juga memangkas pemborosan sumber daya dan pencemaran," kata Gao. Lebih lanjut dia menuturkan timnya kini tengah mengoptimalkan produksi massal molekul pembawa litium dan berkolaborasi dengan produsen baterai untuk mengomersialkan teknologi tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan prediksi luas lahan kering global bertambah sekitar 10 persen pada 2100
Indonesia
•
08 Sep 2023

Kapal penjelajah bertenaga nuklir baru Rusia akan mulai uji coba di laut pada Agustus 2024
Indonesia
•
23 Jun 2024

Mesir temukan sisa peninggalan benteng militer periode Ptolemeus dan Romawi di Sinai
Indonesia
•
05 May 2025

Ilmuwan China kembangkan terobosan teknologi ‘tato es’ untuk organisme hidup
Indonesia
•
19 May 2025


Berita Terbaru

Ilmuwan China ungkap alasan nyeri memburuk pada malam hari
Indonesia
•
21 Mar 2026

Rusia targetkan pembangunan PLTN di Bulan dalam 5-7 tahun
Indonesia
•
20 Mar 2026

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026
