
Unit pembangkit listrik nuklir baru mulai beroperasi di Guangxi, China

Foto yang diabadikan pada 23 Mei 2018 ini menunjukkan lokasi pemasangan kubah setengah bola (hemispherical dome) di unit No. 3 pembangkit listrik tenaga nuklir Fangchenggang di Daerah Otonom Zhuang Guangxi, China selatan. (Xinhua/Fangchenggang Nuclear Power Co., Ltd.)
Teknologi Hualong One yang diterapkan pada proyek PLTN Fangchenggang di kota pelabuhan Fangchenggang, Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, China selatan, dapat menghasilkan hampir 10 miliar kWh listrik setiap tahunnya.
Nanning, China (Xinhua) – Sebuah unit pembangkit listrik nuklir baru yang menggunakan Hualong One, sebuah reaktor nuklir generasi ketiga yang dirancang di dalam negeri, dioperasikan di Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, China selatan, pada Sabtu (25/3), membuka jalan untuk operasi komersial.Dengan beroperasinya unit No.3 dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fangchenggang di kota pelabuhan Fangchenggang, Perusahaan Tenaga Nuklir Umum China itu saat ini memiliki 27 unit tenaga nuklir yang beroperasi, dengan kapasitas terpasang lebih dari 30,56 juta kilowatt.Pengoperasian unit No.3 memverifikasi keamanan dan kematangan teknologi Hualong One lebih lanjut, ungkap Mei Jun, ketua Guangxi Fangchenggang Nuclear Power Co., Ltd.Proyek tersebut akan secara signifikan mendorong pembangunan ekonomi dan sosial serta transformasi hijau di Guangxi seiring dengan daerah itu sedang membangun sebuah basis pasokan listrik pesisir yang bersih, kata Mei.Proyek PLTN Fangchenggang akan memiliki total enam unit pembangkit listrik nuklir. Dua unit pertama mulai beroperasi pada 2016, menghasilkan lebih dari 100 miliar kilowatt-jam (kWh) listrik.Masing-masing dari dua unit kedua, yang menggunakan teknologi Hualong One, dapat menghasilkan hampir 10 miliar kWh listrik setiap tahunnya.Diperkirakan bahwa setelah fase pertama dan kedua dari proyek PLTN Fangchenggang rampung, listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik itu setiap tahunnya dapat memenuhi permintaan listrik tahunan bagi 5,87 juta orang sekaligus mengurangi konsumsi batu bara standar lebih dari 10,4 juta ton, dan memangkas emisi karbon dioksida (CO2) sekitar 28,56 juta ton setiap tahun, ujar Mei.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan APEC serukan reformasi struktural dan pemulihan hijau
Indonesia
•
16 Nov 2022

MarketWatch: Inflasi pangan tetap tinggi di AS dan Eropa
Indonesia
•
06 Aug 2022

Kota pesisir Fethiye di Turkiye siap sambut wisatawan China
Indonesia
•
12 Jan 2023

Mobil energi baru China dominasi pasar NEV Indonesia yang terus meningkat
Indonesia
•
15 Jan 2025


Berita Terbaru

China bisa jadi penopang prospek ekonomi Indonesia di tengah risiko perlambatan
Indonesia
•
11 May 2026

Bank Sentral Malaysia dan Indonesia teken MoU untuk perdalam kerja sama
Indonesia
•
11 May 2026

Sertifikat asal dari bea cukai China timur laut fasilitasi produk China masuki pasar Indonesia
Indonesia
•
10 May 2026

Permintaan cip tetap kuat di tengah ketegangan geopolitik
Indonesia
•
07 May 2026
