Fokus Berita – Tarif picu perlambatan saat perusahaan dan konsumen AS bersiap hadapi tekanan ekonomi

Para pengunjuk rasa berkumpul untuk berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa di luar Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, pada 19 April 2025. (Xinhua/Hu Yousong)
Tarif kargo kontainer juga mencatatkan kemerosotan, sebuah tanda bahwa permintaan terhadap jasa pengiriman ikut anjlok.
Sacramento, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah penelitian baru yang dipublikasikan pada Sabtu (26/4) memperingatkan bahwa tarif Amerika Serikat (AS) yang meluas memicu perlambatan ekonomi yang tajam, dengan sektor bisnis dan rumah tangga merasakan dampaknya seiring meningkatnya harga-harga dan menurunnya level kepercayaan.Apollo Global Management, salah satu perusahaan investasi terbesar di dunia, mengatakan dalam laporan penelitian tersebut bahwa AS sedang menghadapi kemerosotan ekonomi yang ditimbulkannya sendiri akibat tarif impor baru, terutama untuk barang-barang dari China.Tarif-tarif itu awalnya dirancang untuk melindungi industri Amerika, tetapi para pemimpin bisnis dan ekonom memperingatkan bahwa biaya-biaya tersebut dibebankan kepada konsumen dan menyebabkan perusahaan-perusahaan melakukan penghematan, ungkap laporan tersebut, yang dipimpin oleh kepala ekonom Apollo, Torsten Slok."Para eksekutif di bidang transportasi, layanan makanan, dan barang-barang konsumen semuanya melaporkan adanya kondisi resesi dan meningkatnya kewaspadaan konsumen," tulis Slok dalam laporan tersebut, mengutip komentar-komentar dari para pemimpin di Southwest Airlines, Chipotle, dan PepsiCo, yang semuanya mengaku melihat tanda-tanda perlambatan.Perusahaan-perusahaan di AS bereaksi dengan cepat terhadap perubahan situasi ini. Banyak yang telah menurunkan perkiraan pendapatan mereka, dengan Apollo menyebutkan bahwa revisi penurunan tersebut merupakan yang paling tajam sejak 2020. Perusahaan-perusahaan di AS juga memangkas rencana investasi mereka dan mengurangi pesanan untuk peralatan baru, di tengah persiapan untuk menghadapi periode permintaan yang lebih lemah.Salah satu tanda terjadinya masalah adalah lonjakan dalam persediaan.Banyak pelaku usaha terburu-buru mengimpor barang sebelum tarif diberlakukan, sehingga menyebabkan gudang-gudang dipenuhi dengan produk yang belum terjual. Namun dengan permintaan konsumen yang kini melambat, persediaan tersebut pun menumpuk. Penjualan truk mengalami penurunan, dan Indeks Manajer Logistik, yang mengukur kesehatan industri pengiriman, juga menurun, urai Apollo.Perdagangan antara AS dan China melambat secara drastis karena jumlah kontainer pengiriman yang bertolak dari China menuju pelabuhan-pelabuhan di AS telah menurun, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang rak-rak toko yang kosong dan kelangkaan barang kebutuhan sehari-hari, papar Apollo. Perusahaan itu menambahkan bahwa tarif kargo kontainer juga mencatatkan kemerosotan, sebuah tanda bahwa permintaan terhadap jasa pengiriman ikut anjlok.Lebih lanjut, Apollo mendapati bahwa kepercayaan konsumen telah turun ke rekor terendah dalam semua kelompok pendapatan di saat warga AS khawatir soal masa depan, dengan banyak yang memperkirakan kondisi bisnis akan memburuk dan angka pengangguran meningkat.
Seorang pelanggan berbelanja tisu toilet di sebuah toko obat di New York, Amerika Serikat, pada 28 Maret 2025 (Xinhua/Michael Nagle)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Pameran Kunming tunjukkan lonjakan konsumsi komoditas asing
Indonesia
•
17 Feb 2024

Ekonom sebut wacana ‘decoupling’ ekonomi tidak memungkinkan terjadi
Indonesia
•
30 Oct 2024

Uni Eropa siap-siap keluarkan senjata terkuatnya untuk lawan tarif AS
Indonesia
•
06 Apr 2025

Korsel kaitkan defisit perdagangan dengan mahalnya energi dan rendahnya permintaan cip
Indonesia
•
17 Feb 2023
Berita Terbaru

Presiden Meksiko sebut negaranya akan terus kirim minyak ke Kuba
Indonesia
•
30 Jan 2026

Teknologi PaMER hasilkan minyak pangan bernutrisi tinggi, rendah karbon
Indonesia
•
30 Jan 2026

Megafactory Tesla di Shanghai kirim 2.000 lebih unit baterai megapack pada 2025
Indonesia
•
30 Jan 2026

Ekonomi makin tak menentu, permintaan emas dunia pecahkan rekor
Indonesia
•
30 Jan 2026
