Survei: Mayoritas warga AS inginkan UU senjata yang lebih ketat

Sejumlah orang berpartisipasi dalam sebuah unjuk rasa di Austin, Texas, Amerika Serikat, pada 27 Agustus 2022, untuk menuntut kenaikan batas usia yang diizinkan untuk membeli senapan AR-15. (Xinhua/Bo Lee)

Sebanyak 8 di antara 10 warga AS berpendapat bahwa kekerasan bersenjata semakin meningkat di seluruh negara tersebut, dan sekitar dua pertiganya mengatakan kekerasan bersenjata semakin meningkat di negara bagian mereka.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Mayoritas orang dewasa di Amerika Serikat (AS) meyakini kekerasan bersenjata kian meningkat di seluruh negara tersebut dan menginginkan undang-undang (UU) senjata yang lebih ketat, lapor Associated Press (AP) mengutip sebuah survei baru.

Survei yang dilaksanakan oleh University of Chicago Harris School of Public Policy bersama Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research ini menunjukkan 71 persen warga AS, termasuk sekitar separuh pendukung Partai Republik, sebagian besar pendukung Partai Demokrat, dan sebagian besar rumah tangga yang memiliki senjata, berpendapat bahwa UU senjata seharusnya lebih ketat, urai AP.

Secara keseluruhan, 8 di antara 10 warga AS berpendapat bahwa kekerasan bersenjata semakin meningkat di seluruh negara tersebut, dan sekitar dua pertiganya mengatakan kekerasan bersenjata semakin meningkat di negara bagian mereka, tunjuk survei itu.

Survei tersebut dilaksanakan antara 28 Juli hingga 1 Agustus, setelah terjadinya serangkaian insiden penembakan massal yang mematikan dan lonjakan pembunuhan dengan senjata pada 2020 yang meningkatkan perhatian terhadap isu kekerasan bersenjata.

Penembakan Uvalde

Pada Sabtu (27/8), ratusan pengunjuk rasa, termasuk lebih dari belasan anggota keluarga korban penembakan di Sekolah Dasar Robb di Uvalde, berunjuk rasa di Houston untuk menuntut kenaikan batas usia minimum untuk membeli senapan model AR-15.

Mereka juga menuntut Negara Bagian Texas di wilayah tengah-selatan AS untuk mengambil lebih banyak langkah guna membendung aksi kekerasan yang melibatkan senjata api.

Pada Mei lalu, seorang pelaku penembakan berusia 18 tahun menggunakan senapan model AR-15 yang dibeli secara legal untuk membunuh 19 anak dan dua guru di sekolah dasar tersebut. Kekhawatiran terkait keamanan kampus masih menghantui saat tahun ajaran baru dimulai di seluruh AS.

Kendati sejauh ini penembakan Uvalde masih menjadi insiden penembakan paling mematikan pada 2022, tahun ini terdapat sedikitnya 27 insiden penembakan di sekolah yang mengakibatkan luka atau kematian di AS, menurut pelacak penembakan sekolah Education Week, sebuah organisasi berita independen. Sebanyak 119 insiden penembakan di sekolah telah terjadi sejak 2018, ketika Education Week mulai melacak insiden sejenis.

Sumber: Xinhua

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan