
China desak AS berhenti memfitnah dan menekan perusahaan China

Foto yang diabadikan pada 14 November 2022 ini menunjukkan bendera nasional China dan Amerika Serikat di Bali. (Xinhua)
Spionase China menjadi kekhawatiran AS, mendorong digagalkannya tawaran (bid) perusahaan China HMN Tech untuk beberapa proyek, termasuk proyek yang berkaitan dengan kabel bawah laut.
Beijing, China (Xinhua) – Amerika Serikat (AS) harus sungguh-sungguh menghormati prinsip ekonomi pasar dan persaingan yang adil, serta berhenti memfitnah dan menekan perusahaan China, demikian disampaikan seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China pada Selasa (28/3).Komite Urusan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS dilaporkan menyetujui Undang-Undang Kontrol Kabel Bawah Laut (Undersea Cable Control Act) guna memblokir musuh asing mengakses barang dan teknologi yang dapat mendukung kabel bawah laut atau menggunakannya untuk tujuan lain, sehingga memperkuat dan meningkatkan kontrol dan keunggulan kompetitif AS atas infrastruktur utama. Sejumlah laporan media Barat, yang mengutip sumber anonim, mengatakan bahwa karena khawatir dengan apa yang disebut sebagai spionase China, AS dalam beberapa tahun terakhir menggagalkan tawaran (bid) perusahaan China HMN Tech untuk beberapa proyek, termasuk proyek yang berkaitan dengan kabel bawah laut.Ketika dimintai tanggapan terkait laporan tersebut dalam sebuah konferensi pers harian, Juru Bicara Kemenlu China Mao Ning mengatakan pemerintah China selalu mendorong perusahaan-perusahaan China untuk terlibat dalam investasi dan kerja sama internasional sesuai dengan prinsip pasar, aturan internasional, dan hukum setempat."Kami menentang AS yang secara berlebihan memperluas konsep keamanan nasionalnya untuk membuat pincang perusahaan asing, dan menyalahgunakan kekuasaan negara untuk mengganggu aturan dan tatanan pasar yang normal," tutur Mao.Mao mengatakan bahwa mengupayakan keunggulan kompetitif tidak melegitimasikan perilaku buruk, juga tidak berarti seseorang dapat melanggar aturan atau secara keliru menuding orang lain "memata-matai" demi membenarkan perilakunya sendiri yang salah.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Bahrain tetap dukung Palestina meski berdamai dengan Israel
Indonesia
•
13 Sep 2020

Inggris umumkan tambahan 75 juta poundsterling untuk perkuat keamanan perbatasan
Indonesia
•
05 Nov 2024

Menteri kabinet senior Inggris desak PM Starmer tetapkan jadwal pengunduran dirinya
Indonesia
•
12 May 2026

Warga Jepang protes keras rencana penyelenggaraan KTT G7 di Hiroshima
Indonesia
•
16 May 2023


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
