
SpaceX konfirmasi satelit Starlink alami anomali saat di orbit

Roket SpaceX Falcon 9 dengan satelit Starlink di dalamnya meluncur dari Cape Canaveral Space Force Station di Florida, Amerika Serikat, pada 28 Mei 2024. (Sumber: SpaceX)
Satelit Starlink 34343 kehilangan kontak saat beroperasi pada ketinggian sekitar 560 km di atas Bumi.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat (AS), SpaceX, pada Senin (30/3) mengonfirmasi bahwa sebuah satelit Starlink mengalami anomali saat berada di orbit pada Ahad (29/3), yang mengakibatkan hilangnya komunikasi serta munculnya puing-puing.
Satelit Starlink 34343 kehilangan kontak saat beroperasi pada ketinggian sekitar 560 km di atas Bumi, menurut pernyataan yang dirilis melalui akun resmi Starlink di platform X.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa anomali tersebut tidak menimbulkan risiko baru terhadap Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) beserta awaknya, maupun terhadap misi Bulan berawak Artemis II milik NASA yang akan datang, demikian menurut pernyataan tersebut.
SpaceX menyatakan pihaknya akan terus memantau satelit tersebut beserta puing-puing yang dapat dilacak, serta berkoordinasi dengan NASA dan Angkatan Antariksa AS.
SpaceX juga menyatakan bahwa kejadian ini tidak menimbulkan risiko baru terhadap misi penerbangan bersama (rideshare) Transporter-16 yang diluncurkan sebelumnya pada Senin, karena penempatan muatan untuk misi tersebut dilakukan jauh di atas atau di bawah konstelasi Starlink guna menghindari potensi tabrakan.
Sementara itu, LeoLabs, perusahaan teknologi luar angkasa AS yang mengkhususkan diri dalam pelacakan satelit dan puing luar angkasa di orbit rendah Bumi, pada Senin menyatakan pihaknya mendeteksi peristiwa pembentukan fragmen yang terkait dengan Starlink 34343 pada Ahad. Analisisnya menunjukkan adanya kemiripan dengan anomali sebelumnya yang melibatkan satelit Starlink 35956 pada 17 Desember 2025.
Peristiwa semacam ini menunjukkan perlunya karakterisasi cepat terhadap kejadian anomali guna memberikan kejelasan mengenai kondisi lingkungan operasional, demikian disampaikan perusahaan tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Peneliti China ungkap peran sumber panas perkotaan dalam memperparah peristiwa panas ekstrem
Indonesia
•
20 Dec 2025

Peneliti Australia hadirkan efisiensi layaknya otak pada navigasi robot
Indonesia
•
20 Jun 2025

Huawei luncurkan ‘smartwatch’ baru dengan fitur pendukung olahraga profesional di Indonesia
Indonesia
•
29 May 2025


Berita Terbaru

Jepang temukan bahan kimia industri beracun lampaui ambang batas di 629 lokasi pemantauan air
Indonesia
•
30 Mar 2026

Jepang kembali batalkan uji terbang perdana kendaraan eksperimental roket ‘reusable’ akibat malafungsi
Indonesia
•
30 Mar 2026

Mengisap vape berpotensi picu kanker
Indonesia
•
31 Mar 2026

China luncurkan roket pengangkut Lijian-2 Y1
Indonesia
•
31 Mar 2026
