
Jepang kembali batalkan uji terbang perdana kendaraan eksperimental roket ‘reusable’ akibat malafungsi

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 7 September 2023 ini menunjukkan roket H2A yang membawa wahana penjelajah Bulan Jepang, Smart Lander for Investigating Moon (SLIM), lepas landas dari Pusat Antariksa Tanegashima di Prefektur Kagoshima, Jepang barat daya. (Xinhua/JAXA)
RV-X memiliki panjang sekitar 7,3 meter dan diameter 1,8 meter, serta ditenagai oleh sebuah mesin yang menggunakan oksigen cair dan hidrogen cair.
Tokyo, Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Badan antariksa Jepang kembali membatalkan uji terbang perdana yang dijadwalkan untuk kendaraan eksperimental roket kecil yang dapat digunakan kembali (reusable), RV-X, pada Senin (30/3) karena malafungsi, menurut laporan media lokal.
Badan Eksplorasi Kedirgantaraan Jepang (Japan Aerospace Exploration Agency/JAXA) memulai persiapan prapeluncuran untuk RV-X sejak Senin pagi waktu setempat di Pusat Pengujian Roket Noshiro di Prefektur Akita. Namun, para teknisi menemukan bahwa perangkat yang dirancang untuk memisahkan pipa suplai bahan bakar dari badan roket tidak berfungsi secara normal. JAXA kemudian memutuskan untuk membatalkan uji terbang pada hari itu, menurut Kyodo News dan The Sankei Shimbun.
Upaya yang dibatalkan tersebut menandai penundaan kelima uji terbang perdana RV-X. Peluncuran awalnya dijadwalkan pada 7 Maret, tetapi ditunda tiga kali akibat faktor cuaca dan dijadwalkan ulang menjadi 25 Maret. Pada hari itu, uji coba juga dihentikan sebelum lepas landas karena perangkat yang menghubungkan badan roket dengan peralatan eksternal mengalami "masalah yang memerlukan konfirmasi."
RV-X memiliki panjang sekitar 7,3 meter dan diameter 1,8 meter, serta ditenagai oleh sebuah mesin yang menggunakan oksigen cair dan hidrogen cair.
Program uji coba itu bertujuan untuk mengumpulkan data guna pengembangan roket yang dapat digunakan kembali. Jepang berencana mengadopsi teknologi reusable tersebut pada roket pengangkut utama generasi berikutnya untuk memungkinkan peluncuran satelit dengan biaya lebih murah dan frekuensi lebih sering.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi sebut tingkat serapan karbon cemara China capai puncaknya di usia pertengahan
Indonesia
•
26 Oct 2023

Fokus Berita – Perkembangan pesat sektor energi baru China dorong transisi hijau global
Indonesia
•
20 May 2024

Indonesia ubah sampah plastik jadi bahan bakar
Indonesia
•
21 Oct 2019

Beruang Gobi yang terancam punah terlihat di China untuk kali pertama
Indonesia
•
01 Sep 2024


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
