
Peneliti Australia hadirkan efisiensi layaknya otak pada navigasi robot

Seorang staf menyinkronkan gerakan robot di Leju Robotics di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan, pada 27 Maret 2025. (Xinhua/Liu Yongzhen)
Sistem navigasi robot dengan komputasi neuromorfis meniru proses saraf otak manusia, sehingga sangat mengurangi konsumsi energi.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti Australia meluncurkan sistem navigasi robot yang meniru proses saraf otak manusia, yang sangat mengurangi konsumsi energi.Sistem baru yang dinamai Locational Encoding with Neuromorphic Systems (LENS) ini menggunakan komputasi yang terinspirasi dari otak dan hanya membutuhkan kurang dari 10 persen energi yang dibutuhkan oleh teknologi navigasi robotik tradisional, demikian menurut rilis dari Universitas Teknologi Queensland (Queensland University of Technology/QUT) pada Kamis (19/6).Para peneliti robotika di QUT memanfaatkan komputasi neuromorfis, yang memproses informasi menggunakan lonjakan listrik yang mirip dengan yang ada pada neuron manusia, untuk mencapai pelacakan lokasi secara real-time dan hemat energi."Keterbatasan energi menjadi tantangan utama dalam robotika dunia nyata, terutama di bidang-bidang seperti pencarian dan penyelamatan, eksplorasi luar angkasa, dan navigasi bawah air," ujar Adam Hines, peneliti utama dalam studi ini yang juga seorang ilmuwan saraf.Komputasi neuromorfis memangkas penggunaan energi lokalisasi visual pada sistem hingga 99 persen, sehingga robot dapat beroperasi lebih lama dan berjalan lebih jauh dengan daya yang terbatas, kata Hines."Sistem ini menunjukkan bagaimana komputasi neuromorfis dapat mencapai pelacakan lokasi secara real-time dan hemat energi pada robot, sehingga membuka kemungkinan baru untuk teknologi navigasi berdaya rendah," lanjut Hines.LENS mengintegrasikan jaringan saraf spiking, kamera peristiwa yang meniru penglihatan manusia dengan mendeteksi perubahan kecerahan tingkat piksel, serta cip neuromorfis, yang memungkinkan pengenalan lokasi lebih dari 8 km dengan hanya menggunakan ruang penyimpanan 180 KB, 300 kali lebih kecil daripada sistem konvensional, papar studi yang telah diterbitkan dalam jurnal Science Robotics tersebut.Para peneliti menyoroti bahwa navigasi hemat energi merupakan kunci untuk meningkatkan jangkauan dan daya tahan robot, yang menggarisbawahi fokus tim ini pada inovasi robotika yang praktis dan berorientasi pada pengguna.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Batuan purba ungkap peran air dalam membentuk Bumi 3,1 miliar tahun lalu
Indonesia
•
08 Jul 2026

Detektor plasma, alat pemantau di stasiun luar angkasa China
Indonesia
•
26 Aug 2022

Mesir temukan sisa peninggalan benteng militer periode Ptolemeus dan Romawi di Sinai
Indonesia
•
05 May 2025

China akan luncurkan hingga 3 satelit cadangan BeiDou pada 2023
Indonesia
•
29 Apr 2023


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
