
Feature – Mimpi warga Gaza untuk jalani hidup normal pupus oleh pengungsian berulang kali

Emad Abu Hamad duduk di antara reruntuhan bangunan di wilayah Bani Suhaila di sebelah timur Kota Khan Younis, Gaza selatan, pada 17 Juni 2024. Emad Abu Hamad (32) beserta sang istri Fatima Abu Hamad (30) tinggal bersama kelima anak mereka di sebuah wilayah di sebelah timur Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Siklus pengungsian tanpa henti di Gaza telah menghancurkan mimpi banyak orang, memaksa jutaan warga berulang kali meninggalkan tanah kelahiran mereka akibat serangan Israel yang telah menghancurkan setiap sudut daerah kantong padat penduduk tersebut.
Gaza, Palestina (Xinhua) – Di Gaza, siklus pengungsian tanpa henti telah menghancurkan mimpi banyak orang, memaksa jutaan warga berulang kali meninggalkan tanah kelahiran mereka akibat serangan Israel yang telah menghancurkan setiap sudut daerah kantong padat penduduk tersebut."Bagi kami, memikirkan masa depan sungguh melelahkan," ujar Masada Al-Hamzawi (32), janda sekaligus pengungsi Palestina asal Beit Hanoun di Gaza timur laut. Dia telah menanggung pedihnya pengungsian di berbagai area di Jalur Gaza.Sebagai satu-satunya penyedia kebutuhan hidup bagi kelima anaknya sejak kepergian sang suami pada 2013, Masada menggantungkan harapan untuk masa depan yang lebih baik di tengah tantangan membesarkan anak-anak yatim."Namun, semua harapan saya hancur ketika perang dimulai," ujarnya. "Saat ini, kami tidak tahu apakah kami masih bisa hidup untuk menyongsong hari esok, apalagi membangun kembali apa yang telah hancur."Masada kini tinggal bersama anak-anaknya di sebuah tenda di pantai Deir al-Balah di Gaza tengah, di mana suhu panas yang menyengat menjadikan kehidupan sehari-hari tak tertahankan."Bertahan hidup adalah perjuangan sehari-hari, tanpa adanya prospek masa depan yang lebih baik," tambahnya. Dia juga merasa khawatir keluarganya akan dipaksa untuk terus mengungsi, seperti kakek dan neneknya.
Emad Abu Hamad mengantre untuk mendapatkan makanan di wilayah Bani Suhaila di sebelah timur Kota Khan Younis, Gaza selatan, pada 17 Juni 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Emad Abu Hamad dan keluarganya terlihat di wilayah Bani Suhaila di sebelah timur Kota Khan Younis, Gaza selatan, pada 17 Juni 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Anak-anak dari Emad Abu Hamad, seorang pengungsi Palestina, bermain di wilayah Bani Suhaila di sebelah timur Kota Khan Younis, Gaza selatan, pada 17 Juni 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Fokus Berita – Upaya penghijauan China cakup penanaman 3,998 juta hektare hutan
Indonesia
•
14 Mar 2024

COVID-19 – WHO: tak ada tanda penyebaran virus di Wuhan sebelum Desember 2019
Indonesia
•
09 Feb 2021

China punya puluhan kota paling bahagia di tahun 2022
Indonesia
•
22 Dec 2022

Feature – Program WFP hadirkan makanan bergizi bagi siswa-siswa TK di pedesaan China
Indonesia
•
05 Oct 2024


Berita Terbaru

Queensland di Australia akan larang anak di bawah 16 tahun kendarai perangkat ‘e-mobility’
Indonesia
•
25 Mar 2026

Badan Pengawas Obat AS tarik hampir 90.000 botol ibuprofen anak secara nasional
Indonesia
•
21 Mar 2026

Angka kematian anak balita turun lebih dari setengahnya sejak tahun 2000
Indonesia
•
19 Mar 2026

Idul Fitri 1447H – Warga Afghanistan bersiap sambut Idul Fitri di tengah sanksi dan kemiskinan
Indonesia
•
19 Mar 2026
