
Setelah 9 tahun dikembangkan, vaksin selesma ini mulai tunjukkan harapan

Ilustrasi. (Diana Polekhina on Unsplash)
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Kandidat vaksin yang dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap rhinovirus, penyebab sebagian besar kasus selesma dan faktor yang memperburuk penyakit pernapasan kronis, menunjukkan hasil awal yang menjanjikan dalam uji klinis Fase 1, demikian disampaikan Imperial College London pada Rabu (26/8).
Hasil awal menunjukkan bahwa kandidat vaksin yang dikenal sebagai APL-10456 tersebut dapat ditoleransi dengan baik oleh sukarelawan sehat dan bahwa satu dosis menghasilkan respons imun terhadap ketiga spesies utama rhinovirus.
Vaksin tersebut dikembangkan melalui kolaborasi antara Imperial dan perusahaan biofarmasi Apollo Therapeutics, dengan berlandaskan penelitian yang telah dilakukan selama bertahun-tahun oleh Sebastian Johnston, profesor kedokteran respirasi dan alergi di National Heart and Lung Institute, Imperial.
Sejak 2017, para peneliti Imperial dan Apollo telah mengevaluasi dan menyempurnakan berbagai pendekatan vaksin. Lebih dari 20 studi praklinis yang dilakukan bersama organisasi penelitian kontrak VirTus Respiratory Research Ltd telah membantu mengidentifikasi kandidat vaksin tersebut dan menghasilkan bukti yang mendukung pengembangannya ke tahap pengujian pada manusia.
Menurut universitas tersebut, perekrutan peserta dan pemberian dosis telah rampung dalam uji klinis Fase 1 secara acak dan terkontrol plasebo, yang melibatkan 144 partisipan sehat.
Tahap pertama menilai keamanan, tolerabilitas, dan respons imun terhadap APL-10456 pada partisipan sehat serta mengevaluasi tiga tingkat dosis tunggal pada orang dewasa berusia 18 hingga 54 tahun.
Tahap kedua mengevaluasi pemberian dua dosis pada orang dewasa berusia 55 tahun ke atas, dengan data lebih lanjut diperkirakan akan diperoleh pada kuartal keempat 2026.
Terdapat sekitar 180 galur rhinovirus yang mencakup tiga spesies, yakni A, B, dan C, sehingga virus tersebut menjadi target yang sulit untuk pengembangan vaksin. Meskipun sebagian besar infeksi menyebabkan selesma ringan, virus tersebut merupakan salah satu penyebab utama kambuhnya gejala pada penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Hingga saat ini, belum ada pengobatan antivirus yang ditargetkan secara khusus maupun vaksin untuk infeksi rhinovirus yang disetujui.
"Sangat menggembirakan melihat perkembangan ini telah menghasilkan hasil klinis, yang merupakan kelanjutan dari penelitian dan pengembangan selama bertahun-tahun," kata Johnston.
Namun, penelitian klinis lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah APL-10456 dapat mencegah infeksi rhinovirus atau mengurangi tingkat keparahan penyakit pada penderita asma, PPOK, dan kondisi pernapasan lainnya.
Sebuah studi yang melibatkan pasien PPOK diperkirakan akan dimulai pada paruh pertama 2027.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China terbitkan pedoman etik untuk penelitian penyuntingan genom manusia
Indonesia
•
11 Jul 2024

Menyusui bentuk ulang sistem imun untuk cegah kanker payudara
Indonesia
•
22 Oct 2025

Raksasa teknologi Huawei China bantu Thailand jadi pusat pengembangan AI regional
Indonesia
•
21 Dec 2023

Taiwan mulai uji coba obat kanker pada manusia tahun depan
Indonesia
•
22 Nov 2021


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
