
Tim peneliti identifikasi target protein baru, buka jalan bagi pengobatan kanker darah agresif

Seorang dokter mengunjungi pasien di Rumah Sakit Diagnostik dan Terapi Kanker Nasional di Kabul, ibu kota Afghanistan, pada 2 Februari 2025. (Xinhua/Saifurahman Safi)
Sel-sel kanker darah yang agresif tidak dapat bertahan hidup tanpa CDK11, yang berpotensi membuka strategi baru untuk mengobati kanker yang sulit diobati ini.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti Australia berhasil mengidentifikasi target baru yang potensial untuk mengobati kanker darah agresif seperti leukemia myeloid akut (acute myeloid leukemia/AML).Studi tersebut, yang dipublikasikan di Molecular Cell, mengidentifikasi sebuah protein yang disebut Cyclin-Dependent Kinase 11 (CDK11) sebagai pengatur ekspresi gen yang penting dalam sel kanker, menurut pernyataan yang dirilis pada Selasa (26/8) oleh Pusat Kanker Peter MacCallum Australia.Penelitian itu mengungkap bahwa dengan memblokir CDK11, para ilmuwan menemukan bahwa mereka dapat memicu kematian sel yang cepat pada AML, dan obat eksperimental yang menyasar CDK11 dapat secara efektif membunuh sel kanker darah pada model AML manusia praklinis."Sel-sel kanker merupakan ahlinya dalam membajak kontrol gen normal," kata penulis senior Ricky Johnstone, profesor sekaligus direktur eksekutif penelitian kanker di pusat penelitian tersebut.Sel-sel kanker darah yang agresif tidak dapat bertahan hidup tanpa CDK11, yang "berpotensi membuka strategi baru untuk mengobati kanker yang sulit diobati ini," kata Johnstone.Penulis utama Jennifer Devlin mengatakan sel kanker sangat bergantung pada jalur tertentu untuk tumbuh, mengidentifikasi CDK11 sebagai salah satu "kelemahan," dan dengan menyasar CDK11, para ilmuwan dapat mematikan gen yang penting untuk kelangsungan hidup kanker tanpa merusak sel normal.Terobosan ini membawa harapan baru bagi pasien yang menghadapi kanker darah agresif dengan pilihan pengobatan terbatas seperti AML, yang menyerang lebih dari 1.000 orang Australia setiap tahunnya dan memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun (five-year survival rate) hanya 30 persen, kata tim penulis.Tim peneliti itu bertekad untuk memajukan obat yang menyasar CDK11 ke tahap uji klinis.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kerusakan terdeteksi pada lapisan luar wahana antariksa Rusia yang tertambat di ISS
Indonesia
•
16 Dec 2022

Fokus Berita – Industri NEV China bidik pengembangan hijau di tengah transformasi
Indonesia
•
26 Dec 2023

India akan hadapi kondisi cuaca panas pada April-Juni 2024
Indonesia
•
04 Apr 2024

10 robot bantu sterilkan Masjidil Haram
Indonesia
•
09 Jun 2021


Berita Terbaru

Sinar matahari bisa ubah limbah plastik jadi bahan bakar bersih
Indonesia
•
30 Apr 2026

Peneliti buat peta pertama untuk reseptor penciuman di hidung
Indonesia
•
30 Apr 2026

Ada mikroplastik di dalam otak manusia, peneliti ungkap pola distribusinya
Indonesia
•
30 Apr 2026

ZTE dan XLSMART luncurkan pusat inovasi di Jakarta untuk dukung pengembangan 5G-A dan AI di Indonesia
Indonesia
•
28 Apr 2026
