
Teknologi ubah situs tambang terkenal jadi industri yang lebih cerdas dan aman

Foto yang diabadikan dengan ponsel ini menunjukkan sejumlah karyawan yang bekerja di Tambang Besi Daye di Huangshi, Provinsi Hubei, China tengah, pada 2 Agustus 2023. (Xinhua/Yuan Quan)
Penggunaan teknologi cerdas memungkinkan Tambang Besi Daye di China tengah untuk mengurangi jumlah orang yang bekerja di bawah tanah sekaligus meningkatkan tingkat produksi, dan menaikkan efisiensi tenaga kerja hingga lebih dari 50 persen.
Wuhan, China (Xinhua) – Ketika berbicara tentang pertambangan, banyak orang mungkin berpikir bahwa pertambangan adalah industri yang kotor, padat karya, dan berbahaya. Namun, situasinya sangat berbeda di Huangshi, sebuah kota industri di China tengah, karena pertambangan di sini mengandalkan mesin nirawak, teknologi pemantauan jarak jauh, dan sistem koordinasi cerdas.Mengenakan setelan jas biru dan kaos putih, Yuan Jianjun, seorang penambang dari Tambang Besi Daye (Daye Iron Mine), duduk di depan komputer di sebuah pusat komando yang luas. Matanya terpaku pada sejumlah layar yang menampilkan berbagai gambar langsung dari mesin-mesin tambang bawah tanah dan data waktu nyata (real time) dari sensor yang ditempatkan di dalam tambang dan pada alat-alat tersebut.Di masa lalu, Yuan harus melakukan pekerjaannya di tengah-tengah mesin yang menderu dan lingkungan yang sangat berdebu saat bekerja di bawah tanah. "Dahulu itu adalah pekerjaan yang menantang, baik secara fisik maupun mental," kenang Yuan.Kondisi mulai berubah menjadi lebih baik pada 2021. Setelah menjalani pelatihan, penambang batu bara yang berusia pertengahan empat puluhan ini melanjutkan kariernya sebagai pekerja ‘kerah putih’. Kini, ada mesin-mesin yang dikendalikan dari jarak jauh untuk mengumpulkan mineral yang dioperasikan dari lingkungan yang mirip kantor.Penggunaan teknologi cerdas memungkinkan lokasi tambang tersebut untuk mengurangi jumlah orang yang bekerja di bawah tanah sekaligus meningkatkan tingkat produksi. Efisiensi tenaga kerja meningkat lebih dari 50 persen, ungkap Tang Xiang, kepala pusat kendali cerdas di lokasi tambang besi itu.Terletak di Kota Huangshi di Provinsi Hubei, Tambang Besi Daye hanya berjarak belasan kilometer dari Sungai Yangtze. Dahulu, tambang ini merupakan tambang terbuka terbesar di Asia. Luas mulut lubang tambang itu setara 150 lapangan sepak bola standar, membentang lebih dari 1,08 juta meter persegi dengan kedalaman 444 meter.Dari tahun 1960-an hingga 1980-an, Tambang Besi Daye mengalami perkembangan pesat, dengan lebih dari 10.000 pekerja yang memproduksi lebih dari 5 juta ton bijih besi per tahun.Namun, setelah eksploitasi sumber daya selama puluhan tahun, Huangshi terdaftar sebagai kota yang kehabisan sumber daya pada 2009. Di tengah upaya kota itu merevitalisasi industri pertambangan, perusahaan-perusahaan lokal juga mulai menjajaki cara-cara untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.Transformasi digital merupakan salah satu langkah yang diadopsi oleh Tambang Besi Daye, karena memiliki potensi untuk membantu memangkas biaya dan meningkatkan keuntungan dengan merampingkan proses kerja serta memberikan wawasan data yang lebih besar untuk mendorong keputusan strategis.
Foto yang diabadikan pada 11 Januari 2023 ini memperlihatkan sejumlah pekerja yang bekerja di sebuah pabrik Lotus di Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah. (Xinhua/Xiao Yijiu)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Roket uji coba ‘reusable’ komersial China rampungkan uji terbang lepas landas dan pendaratan vertikal
Indonesia
•
12 Sep 2024

Facebook hapus 500 akun China yang sebarkan klaim palsu dan propaganda anti-AS
Indonesia
•
03 Dec 2021

Danau air tawar terbesar di China surut hingga 90 persen
Indonesia
•
16 Dec 2025

Tingkatkan pengalaman pengunjung, Kebun Binatang Madrid hadirkan penjaga berbasis AI di kandang panda
Indonesia
•
05 Oct 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
