Sekolah di Selandia Baru tambah mata pelajaran berbasis industri, dari AI hingga pariwisata

Para siswa mengikuti kelas bahasa Mandarin di Evans Bay Intermediate School di Wellington, Selandia Baru, pada 27 September 2021. (Xinhua/Guo Lei)

Wellington, Selandia Baru (Xinhua/Indonesia Window) – Selandia Baru pada Kamis (6/8) meluncurkan serangkaian mata pelajaran baru yang berbasis industri di tingkat sekolah menengah.

Tujuannya adalah mempersiapkan para siswa untuk pekerjaan di masa depan serta memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor utama dengan lebih baik.

Menteri Pendidikan Selandia Baru Erica Stanford mengumumkan bahwa sembilan mata pelajaran baru tersebut meliputi manufaktur generasi berikutnya, sistem cerdas terapan, konstruksi dan lingkungan binaan, energi dan infrastruktur, teknologi rekayasa, sistem pangan dan serat, layanan dan perawatan kesehatan, perhotelan serta makanan dan minuman, dan pariwisata.

Mata pelajaran itu, yang akan diperkenalkan kepada siswa kelas 12 dan 13 mulai 2029, sedang dikembangkan bersama industri dan dirancang untuk membekali siswa dengan keterampilan praktis dan relevan sekaligus mendukung "berbagai jalur menuju universitas, bidang keterampilan teknis, pelatihan, atau dunia kerja," kata Stanford dalam sebuah pernyataan.

Dia mengatakan mata pelajaran baru ini akan memiliki status yang sama dengan mata pelajaran konvensional seperti bahasa Inggris dan matematika, serta akan diperhitungkan dalam sistem kualifikasi sekolah menengah nasional.

Menteri Pertumbuhan Ekonomi Selandia Baru Nicola Willis mengatakan pemerintah telah mengalokasikan 15 juta dolar Selandia Baru atau 8,83 juta dolar AS dalam anggaran 2026 untuk mengembangkan "kualifikasi praktis yang diinginkan siswa dan dibutuhkan pemberi kerja."

*1 dolar Selandia Baru = 10.528 rupiah

**1 dolar AS = 17.937 rupiah

Lebih lanjut dikatakan Willis, perekonomian yang terus tumbuh akan menciptakan lebih banyak peluang bagi generasi muda Selandia Baru, dan rangkaian mata pelajaran baru tersebut akan membantu menyediakan jalur yang jelas untuk memasuki sektor-sektor seperti energi, konstruksi, rekayasa, pangan dan serat, kesehatan, serta pariwisata.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait