
Sekjen Organisasi Maritim Internasional sebut upaya militer semata tidak bisa selesaikan krisis Hormuz

Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) Arsenio Dominguez menyampaikan pernyataan dalam taklimat pers yang diadakan di kantor pusat IMO di London pada 23 Januari 2026. (Xinhua/IMO)
Situasi di Selat Hormuz memerlukan deeskalasi, sementara pendekatan militer semata tidak akan berhasil, sehingga solusi maritim yang praktis diperlukan untuk mengatasi krisis tersebut.
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) Arsenio Dominguez pada Kamis (2/4) mengatakan bahwa situasi di Selat Hormuz memerlukan deeskalasi, serta menegaskan bahwa pendekatan militer semata tidak akan berhasil dan solusi maritim yang praktis diperlukan untuk mengatasi krisis tersebut.
Menurut taklimat pers yang dirilis di situs web resmi IMO, Dominguez menyampaikan pernyataan tersebut saat menghadiri pertemuan virtual mengenai situasi di Selat Hormuz yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris (British Foreign, Commonwealth and Development Office), yang dihadiri oleh menteri luar negeri dari 40 lebih negara.
Selama pertemuan tersebut, Dominguez memberikan pemaparan kepada para peserta mengenai upaya yang sedang dilakukan oleh IMO. Dia mendesak negara-negara untuk mendukung upaya diplomatik guna memastikan evakuasi sekitar 20.000 pelaut yang saat ini terdampar di Teluk Persia. Dominguez juga menyerukan pembentukan koridor kemanusiaan untuk bantuan mendesak.
Usai pertemuan tersebut, Dominguez mengatakan bahwa respons yang terfragmentasi tidak lagi cukup untuk menyelesaikan krisis. "Yang sangat dibutuhkan saat ini adalah keterlibatan diplomatik, solusi yang praktis dan netral, serta tindakan internasional yang terkoordinasi," ujarnya.
Dominguez menambahkan bahwa IMO sedang mengajukan kerangka evakuasi maritim yang didasarkan pada kerja sama antara negara-negara pesisir, jaminan keamanan, dan koordinasi operasional, dengan tujuan yang jelas untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak, memungkinkan pergantian awak kapal secara aman, serta mencegah bencana lingkungan.
Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer berskala besar terhadap Iran, IMO telah melaporkan 21 serangan terhadap kapal komersial. Serangan-serangan itu mengakibatkan 10 pelaut tewas dan beberapa lainnya mengalami luka serius.
Usai rapat luar biasa Dewan IMO yang diadakan pada 18-19 Maret, IMO telah mengambil sejumlah langkah penting, termasuk mengajukan diskusi dengan negara-negara terkait mengenai kerangka jalur aman untuk mengevakuasi pelaut yang terdampar, melibatkan negara-negara regional untuk mengamankan jalur pasokan dan memfasilitasi akses kemanusiaan, serta meningkatkan pertukaran informasi dan koordinasi dengan para mitra industri.
IMO juga memperkuat pengumpulan dan verifikasi data terkait insiden maritim, serta berkontribusi pada gugus tugas khusus PBB untuk Selat Hormuz yang bertujuan menangani kebutuhan kemanusiaan melalui mekanisme teknis yang terkoordinasi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China sebut penolakan tegas "kemerdekaan Taiwan" diperlukan demi perdamaian
Indonesia
•
19 Feb 2023

Media sebut Turkiye akan dukung pencalonan PM Belanda Mark Rutte sebagai sekjen NATO
Indonesia
•
03 May 2024

Tajuk Xinhua: China dan Arab Saudi upayakan kemajuan kemitraan strategis komprehensif (Bagian 2 - selesai)
Indonesia
•
09 Dec 2022

Takaichi resmi terpilih kembali sebagai PM Jepang
Indonesia
•
18 Feb 2026


Berita Terbaru

Dua warga Palestina tewas dalam sehari, PBB soroti kekerasan mematikan di Tepi Barat
Indonesia
•
23 Aug 2026

Uber didenda Belanda 17,1 triliun rupiah karena sistem otomatis blokir akun pengemudi
Indonesia
•
23 Aug 2026

Iran tantang Trump: “Operasi Ekonomi” AS pasti gagal seperti sanksi-sanksi sebelumnya
Indonesia
•
23 Aug 2026

Pezeshkian: Lebih baik akhiri perang sekarang, Iran tak akan tunduk pada intimidasi AS
Indonesia
•
23 Aug 2026
