
Dua warga Palestina tewas dalam sehari, PBB soroti kekerasan mematikan di Tepi Barat

Foto yang diabadikan pada 9 Agustus 2026 ini memperlihatkan permukiman Israel yang sedang dibangun di Tepi Barat, dekat Yerusalem (Al-Quds/wilayah Palestina yang diduduki). (Xinhua/Gil Cohen Magen)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (21/8) menyatakan mitra-mitra mereka menyuarakan kekhawatiran terkait kekerasan mematikan yang dilakukan oleh pemukim Israel di Tepi Barat, serta penggunaan peluru tajam oleh pasukan Israel dalam operasi penegakan hukum yang melibatkan warga Palestina.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan dua warga Palestina tewas pada Jumat dalam insiden terpisah yang melibatkan pasukan Israel.
"Dalam sebuah serangan oleh pemukim Israel di sebuah komunitas Palestina di wilayah Hebron, seorang pemuda Palestina tewas tertembak, satu orang lainnya terluka parah, sebuah rumah dibakar, dan sejumlah rumah lainnya mengalami kerusakan," sebut OCHA. "Militer Israel, yang pasukannya dilaporkan berada di lokasi kejadian, menyatakan penembakan tersebut terjadi setelah adanya aksi pelemparan batu oleh warga Palestina yang menyebabkan sejumlah warga Israel terluka."
Petugas pertahanan sipil Palestina membantu memadamkan kebakaran tersebut, tambah OCHA.
Dalam insiden kedua, OCHA menyatakan pasukan Israel menembak mati seorang pria Palestina di rumahnya di Jenin.
OCHA menyatakan, sejak 1 Januari tahun ini hingga Senin (17/8), 22 warga Palestina di Tepi Barat telah tewas dalam berbagai serangan. Di antara jumlah tersebut, 12 orang tewas akibat serangan pemukim, tujuh orang oleh pasukan Israel, dan tiga orang dalam insiden yang tidak jelas apakah dilakukan oleh pemukim atau pasukan Israel.
OCHA menunjukkan angka kumulatif tersebut belum mencakup korban jiwa dan luka yang dilaporkan pada Jumat.
"Warga Palestina di seluruh wilayah pendudukan Palestina harus dilindungi sebagaimana diwajibkan oleh hukum internasional, dan para pelaku pelanggaran harus dimintai pertanggungjawaban," kata kantor tersebut, seraya menambahkan bahwa, "penggunaan kekuatan mematikan dalam penegakan hukum seharusnya menjadi langkah terakhir."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pasukan militer Meksiko tewaskan pemimpin kartel ‘El Mencho’ di Meksiko barat
Indonesia
•
23 Feb 2026

Usai skandal veteran Nazi, Majelis Rendah Kanada pilih ketua baru
Indonesia
•
06 Oct 2023

PM Selandia Baru sebut negaranya tidak akan bergabung dengan Dewan Perdamaian usulan Trump
Indonesia
•
30 Jan 2026

Mantan presiden Korsel divonis 7 tahun penjara atas upaya menghalangi penangkapan
Indonesia
•
09 Jul 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Gelombang protes Eropa ungkap retaknya kepercayaan publik terhadap pemerintah
Indonesia
•
20 Oct 2026

Prancis berlakukan jam malam di sejumlah kota usai kerusuhan, 2.397 orang ditangkap
Indonesia
•
20 Oct 2026

Program Pangan Dunia butuh 8,1 triliun rupiah untuk operasi di Gaza dan Tepi Barat, bantuan mulai dipangkas
Indonesia
•
20 Oct 2026

Analisis – Kekerasan oleh pemukim di Tepi Barat jadi ujian Israel jelang pemilu
Indonesia
•
20 Oct 2026
