
Sampel Chang'e-6 ungkap rahasia tumbukan asteroid di sistem Bumi-Bulan

Seorang peneliti menunjukkan sampel Bulan yang diambil oleh misi Chang'e-6 di laboratorium sampel Bulan di Observatorium Astronomi Nasional China (National Astronomical Observatories of China/NAOC), yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), di Beijing, ibu kota China, pada 24 September 2024. (Xinhua/Jin Liwang)
Asteroid yang menghantam sistem Bumi-Bulan antara 4,3 miliar hingga 2,8 miliar tahun silam, menunjukkan peralihan dari dominasi asteroid tak berkarbon ke asteroid berkarbon.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dengan menggunakan sampel Bulan yang dikumpulkan oleh misi Chang'e-6, tim ilmuwan China menemukan pergeseran signifikan dalam jenis asteroid yang menghantam sistem Bumi-Bulan antara 4,3 miliar hingga 2,8 miliar tahun silam, menunjukkan peralihan dari dominasi asteroid tak berkarbon ke asteroid berkarbon.
Studi tersebut dilakukan oleh peneliti dari Institut Geologi dan Geofisika Akademi Ilmu Pengetahuan China (Institute of Geology and Geophysics of the Chinese Academy of Sciences/IGGCAS) dan telah dipublikasikan baru-baru ini dalam Journal of Geophysical Research: Planets.
Bagi para ilmuwan, Bulan merekam sejarah tumbukan asteroid di tata surya selama 4 miliar tahun terakhir. Tim peneliti mengisolasi 40 pecahan batuan (clast) dari tumbukan yang mengandung partikel logam kecil dari tanah sisi jauh Bulan, yang berfungsi sebagai "kapsul waktu" karena menyimpan rekaman tumbukan purba.
Berdasarkan komposisi mineral yang berkaitan dengan logam-logam tersebut, tim peneliti mengelompokkannya ke dalam dua kelompok berbeda. Material yang tersimpan dalam puing basaltik merepresentasikan fragmen asteroid yang terakumulasi selama 2,8 miliar tahun terakhir setelah erupsi basaltik, sedangkan material yang berasal dari anortosit dataran tinggi Bulan yang lebih tua dan terlontar dari wilayah lain merekam peristiwa tumbukan yang terjadi sekitar 4,3 miliar tahun lalu.
Analisis tersebut mengungkap perbedaan mencolok pada jenis benda penumbuk dari masa ke masa. Sebanyak 13 clast purba menunjukkan partikel logam yang terutama berasal dari kondrit biasa dan meteorit besi dari Tata Surya bagian dalam, sementara logam asteroid berkarbon menyumbang kurang dari 8 persen.
Namun, pada 27 clast yang lebih muda, proporsi logam yang berasal dari asteroid berkarbon meningkat menjadi sekitar 26 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi asteroid berkarbon meningkat signifikan antara 4,3 miliar hingga 2,8 miliar tahun lalu.
Temuan ini memiliki implikasi besar bagi pemahaman manusia tentang bagaimana air tiba di Tata Surya bagian dalam. Meski asteroid berkarbon kaya akan air dan materi organik, serta diyakini menjadi salah satu sumber utama air purba Bumi, studi tersebut menunjukkan bahwa sejarah tumbukannya ditandai oleh adanya ‘keterlambatan’ atau jeda waktu.
Mengingat asteroid kaya air ini muncul lebih belakangan, yakni ketika intensitas tumbukan di Tata Surya telah menurun secara signifikan, total volume air dan zat volatil yang dapat dibawanya ke sistem Bumi-Bulan kemungkinan lebih terbatas dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Tim peneliti mengaitkan perubahan ini dengan tiga kemungkinan mekanisme, yakni migrasi planet-planet raksasa yang menghamburkan asteroid berkarbon ke arah dalam, efek Yarkovsky yang memicu pergeseran orbit secara bertahap, atau pecahnya benda-benda besar berkarbon akibat tabrakan hingga menghasilkan ladang puing yang sangat luas.
"Bulan berfungsi sebagai arsip murni sejarah tumbukan sistem Bumi-Bulan," kata Lin Yangting, seorang peneliti IGGCAS. Dia menambahkan bahwa dengan mengambil sampel dari berbagai masa di wilayah-wilayah Bulan yang memiliki usia geologis berbeda, para ilmuwan dapat menyempurnakan pola evolusi jenis asteroid, yang pada akhirnya akan memperdalam pemahaman manusia mengenai sejarah tumbukan di tata surya bagian dalam serta menyediakan parameter penting bagi dinamika evolusi orbit benda langit.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Stasiun luar angkasa China rampungkan uji paparan material
Indonesia
•
16 Mar 2024

Peneliti Australia temukan bahwa madu lebah lokal mampu atasi resistansi antibiotik
Indonesia
•
25 Jun 2025

Peneliti BRIN temukan spesies baru anggrek berbentuk seperti kuku macan di Sulawesi
Indonesia
•
21 Aug 2024

Perusahaan tak laporkan kandungan tritium radioaktif tinggi dalam limbah nuklir Fukushima Jepang
Indonesia
•
08 Oct 2022


Berita Terbaru

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026

Jika es Antarktika menyusut, seberapa tinggi laut akan naik? Ilmuwan siapkan survei besar
Indonesia
•
08 Sep 2026
