Saat AS dan Iran berunding, Israel justru pastikan operasi militer di Lebanon tetap berjalan

Foto yang diabadikan pada 21 Juni 2026 ini memperlihatkan bangunan-bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Nabatieh, Lebanon selatan. (Xinhua/Ali Hashisho)

Yerusalem, Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Para pemimpin Israel pada Senin (22/6) menyatakan Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) akan terus bertindak untuk menetralkan "ancaman" di Lebanon selatan, meskipun upaya diplomatik untuk memfasilitasi perundingan Amerika Serikat (AS)-Iran dan meredakan ketegangan kawasan masih berlangsung.

Menurut pernyataan bersama yang dirilis oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Israel Katz, dan Kepala Staf Umum IDF Eyal Zamir, militer akan terus mengambil tindakan untuk menetralkan "ancaman terhadap tentara dan warga Israel," menghancurkan infrastruktur militan, serta mempertahankan "zona keamanan" yang telah dibentuknya di Lebanon selatan.

Pernyataan itu disampaikan ketika AS dan Iran mengakhiri sesi pertama pembicaraan mereka sejak penandatanganan nota kesepahaman perdamaian (memorandum of understanding/MoU), yang digelar di Swiss dengan dimediasi oleh Pakistan dan Qatar.

Para mediator pada Senin mengumumkan hasil-hasil yang "menggembirakan", termasuk peta jalan selama 60 hari menuju kesepakatan final, serta mekanisme untuk menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz dan mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hizbullah.

Pada Sabtu (20/6), Netanyahu dan Katz dilaporkan memerintahkan militer untuk menghentikan tembakan di Lebanon. Katz kembali menegaskan pada Ahad (21/6) bahwa militer tidak akan menarik diri dari "zona keamanan" di Lebanon selatan. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait