
Iran luncurkan sistem baru untuk atur pelayaran via Selat Hormuz

Orang-orang menghadiri upacara pemakaman Alireza Tangsiri, panglima tertinggi Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), serta personel angkatan bersenjata lainnya yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel, di Teheran, Iran, pada 1 April 2026. (Xinhua/Shadati)
Sistem lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz mewajibkan semua kapal yang berencana melintas di jalur perairan sempit itu harus memperoleh izin via email dari otoritas Iran.
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Iran meluncurkan sistem baru untuk mengendalikan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, demikian menurut laporan media resmi negara tersebut pada Selasa (5/5), memperpanjang kebuntuan maritim yang kini melibatkan blokade dan ancaman aksi militer Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan aturan baru tersebut, semua kapal yang berencana melintas di jalur perairan sempit itu harus memperoleh izin via email dari otoritas Iran, ungkap media kelolaan pemerintah Iran, Press TV. Iran menyebut inisiatif ini sebagai "sistem tata kelola berdaulat."
Kapal-kapal diwajibkan untuk menyesuaikan operasinya sesuai sistem baru ini dan mendapatkan izin sebelum memasuki Selat Hormuz, lapor Press TV. Media itu menggambarkan inisiatif tersebut sebagai "sistem tata kelola berdaulat" yang kini berlaku di titik sempit strategis tersebut.
Iran telah memperketat pendekatannya terhadap Selat Hormuz sejak 28 Februari, ketika negara itu menyatakan akan menolak memberikan jalur aman bagi kapal-kapal yang berkaitan dengan Israel dan AS pascaserangan gabungan kedua negara itu terhadap wilayah Iran.
Parlemen Iran juga tengah mempertimbangkan legislasi yang akan meresmikan pembatasan terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Israel dan AS serta menerapkan sistem tarif bagi kapal-kapal lain yang dianggap tidak bermusuhan.
Klaim tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan terkait Selat Hormuz. AS juga telah memberlakukan pembatasan yang memengaruhi kapal-kapal yang berlayar menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan Iran setelah negosiasi pascagencatan senjata dengan Teheran di Islamabad pada 11 dan 12 April tidak membuahkan hasil.
Presiden AS Donald Trump pada Ahad (3/5) mengatakan bahwa AS akan mulai mengawal kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz mulai Senin (4/5) pagi waktu setempat dalam apa yang dia sebut sebagai Project Freedom (Proyek Kebebasan), yang digambarkannya sebagai langkah kemanusiaan.
Sebagai tanggapan, Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran, yang merupakan komando militer gabungan Iran, memperingatkan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA, bahwa "setiap angkatan bersenjata asing, khususnya militer agresif AS, akan diserang jika berniat mendekati dan memasuki Selat Hormuz."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

PM Norwegia makin ragu hubungan negaranya dengan AS
Indonesia
•
14 Feb 2026

COVID-19 – AstraZeneca berkomitmen sediakan vaksin untuk Asia Tenggara
Indonesia
•
29 Jun 2021

AS dan Iran gelar pembicaraan tatap muka di Islamabad, negosiasi mungkin diperpanjang
Indonesia
•
12 Apr 2026

Presiden Lebanon sebut hampir 18 persen wilayah negaranya rusak akibat perang
Indonesia
•
20 Jun 2026


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
