Rumah Singgah Janda Dhuafa pertama di Cileungsi, solusi pengentasan kemiskinan

Foto kolase ini menunjukkan Camat Cileungsi, Drs. Adi Henryana (kiri), dan Ketua Lembaga Amil Zakat Solidaritas Insan Peduli (LAZ SIP), Ustadz Muhamad Irfandi, Lc. (kanan), memberikan sambutan pada acara peresmian Rumah Singgah Janda Dhuafa dan I'dad Du'at (kaderisasi dai) yang berlokasi di Kampung Cirumput, Kecamatan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/5/2026). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)

Rumah Singgah Janda Dhuafa dan I'dad Du'at yang didirikan oleh Lembaga Amil Zakat Solidaritas Insan Peduli bertujuan memberikan bantuan pelatihan keterampilan secara berkelanjutan.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Rumah Singgah Janda Dhuafa dan I'dad Du'at yang didirikan oleh Lembaga Amil Zakat Solidaritas Insan Peduli (LAZ SIP) di Kampung Cirumput, Kecamatan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, merupakan yang pertama di wilayah tersebut.

"Keberadaan rumah singgah ini menjadi yang pertama di wilayah Cileungsi, dan merupakan langkah nyata dalam membantu masyarakat dhuafa," ujar Camat Cileungsi, Drs. Adi Henryana, dalam sambutannya pada peresmian rumah singgah tersebut, Kamis.

Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada LAZ SIP, terutama kepada pihak yang telah mewakafkan tanahnya untuk pembangunan rumah singgah itu.

"Sampai saat ini kita masih banyak kekurangan dalam penanganan kaum dhuafa di Cileungsi. Jumlah penduduk Cileungsi hampir mencapai 350.000 jiwa.  Pemerintah kecamatan membutuhkan dukungan dari para ustadz, ustadzah, serta amil zakat untuk bersama-sama membantu menyejahterakan umat," tutur Camat Cileungsi.

Dalam upaya memberdayakan masyarakat, lanjutnya, pemerintah Kecamatan Cileungsi juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga amil zakat.

"Kami sangat mengapresiasi upaya ini karena ke depan, program bantuan akan diperluas untuk mendukung pelaku UMKM, para petani, dan sektor-sektor ekonomi lainnya agar angka kemiskinan di Cileungsi dapat terus menurun," ujar Camat Cileungsi.

Harapan tersebut disambut optimisme Ketua LAZ SIP, Ustadz Muhamad Irfandi, Lc., yang memaparkan sejumlah program yang akan diselenggarakan oleh lembaga amil tersebut di rumah singgah itu.

"Salah satu fokus besar dalam pendayagunaan dana zakat, infak, dan sedekah oleh LAZ SIP adalah pemberdayaan janda dhuafa. Banyak kaum ibu yang harus memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga. Karena itu, SIP merancang sejumlah program jangka panjang agar para penerima manfaat bisa lebih mandiri secara ekonomi," jelasnya.

Beberapa program yang disiapkan di rumah singgah itu antara lain adalah pinjaman usaha mikro syariah tanpa bunga bagi para janda dan pelaku usaha rumahan, serta pelatihan usaha yang bisa dilakukan di rumah, seperti memasak, menjahit, dan membuat kerajinan tangan.

"Para ibu pasti bisa memasak, tapi kita ingin agar masakannya bisa sesuai dengan standar rasa yang layak jual. Kita akan datangkan koki yang berpengalaman sebagai coach agar produk makanan para ibu siap dijual," tutur Ust. Irfandi.

Selain keterampilan memproduksi, rumah singgah janda dhuafa ini juga akan menggelar pelatihan digital marketing sederhana untuk membantu para ibu memasarkan produk-produk usaha rumahan mereka.

"LAZ SIP berharap langkah tersebut dapat membantu melariskan produk-produk mereka sehingga mereka mampu menopang kebutuhan keluarga secara berkelanjutan," kata Ust. Irfandi.

Lebih lanjut dia menjelaskan, di bidang sosial dan pendidikan, LAZ SIP menyiapkan program beasiswa bagi anak yatim dan dhuafa, serta pengembangan ketahanan pangan berbasis hidroponik untuk mendukung kemandirian masyarakat.

Berkaitan dengan fungsinya sebagai i'dad du'at atau pengaderisasian dai, dia menekankan bahwa rumah singgah ini tidak hanya akan melahirkan para pendidik Islam yang pandai berdakwah, tapi juga mampu memberikan solusi bagi masyarakat.

“Selain menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, rumah singgah ini juga dipersiapkan sebagai lokasi pendidikan kader dai dari berbagai daerah di Indonesia. Angkatan pertama, sudah ada 10 peserta mengikuti program pembinaan tahfizh (menghafal Al-Qur’an), tahsin (memperbaiki bacaan Al-Qur’an), serta pembinaan dakwah selama satu hingga dua tahun sebelum kembali dikirim ke daerah masing-masing untuk berdakwah dan membina masyarakat," jelas Ust. Irfandi.

“Kami butuh dukungan dari semua pihak," tegas Ust. Irfandi, seraya mengutip hadits Rasulullah ﷺ yang artinya "Orang-orang yang membantu para janda dan orang miskin itu seperti orang-orang yang berjihad di jalan Allah."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait