Roket dengan masa tugas terlama milik China peringati 40 tahun debutnya

Sebuah roket pengangkut Long March-2C yang membawa sepasang satelit, Siwei 01 dan 02, lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di China barat laut pada 29 April 2022. (Xinhua/Wang Jiangbo)
Roket Long March-2C saat ini memiliki panjang 43 meter dan kapasitas angkutnya ke orbit rendah Bumi telah meningkat dari 1.800 kilogram menjadi 2.500 kilogram.
Beijing, China (Xinhua) – Roket Long March-2C pertama diluncurkan 40 tahun yang lalu di atas sebuah gurun di China barat laut, mengirim sebuah satelit yang dapat digunakan kembali ke orbit. Sejak saat itu, model tersebut telah menjadi tulang punggung kendaraan peluncur bagi ekspedisi antarplanet China.Usai menjalani penerbangan perdana pada 9 September 1982, roket itu secara bertahap menggantikan Long March-2 yang lebih tua dan melakukan semua peluncuran satelit yang dapat digunakan kembali negara tersebut dalam dekade selanjutnya.Setelah menjalani beberapa peningkatan, roket Long March-2C saat ini memiliki panjang 43 meter dan kapasitas angkutnya ke orbit rendah Bumi telah meningkat dari 1.800 kilogram menjadi 2.500 kilogram. Long March-2C merupakan roket pengangkut dengan masa tugas terlama di China dan bersiap untuk sejumlah peluncuran baru.Long March-2C merupakan roket pengangkut pertama China yang melakukan layanan peluncuran internasional. Pada 1980-an, roket itu mengirim perangkat uji mikrogravitasi milik perusahaan Prancis dan satelit uji untuk ilmu pengetahuan milik Swedia ke luar angkasa.Pada 2003, roket Long March 2C/SM mengirim sebuah satelit, yang masuk dalam program wahana antariksa yang dilakukan bersama oleh China dan Badan Antariksa Eropa (European Space Agency).Sejumlah kesuksesan peluncuran internasional tersebut hanyalah sebagian dari banyak pencapaian signifikan yang dicatat oleh Long March-2C. Selama empat dekade terakhir, roket itu telah memelopori banyak peningkatan dan teknologi roket baru untuk mencatat lebih banyak kemajuan.Contoh terbaru terkait hal itu terjadi pada 2019 saat para ilmuwan menguji sebuah teknologi yang mampu mengendalikan secara akurat lokasi pendaratan dari bagian roket yang jatuh usai peluncuran roket Long March-2C. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa teknologi itu mempersempit area pendaratan dari 1.350 menjadi 60 kilometer persegi hingga lebih dari 96 persen, meningkatkan keselamatan pendaratan roket China di area terpencil secara signifikan.Ma Huiting, kepala komandan Long March-2C di Akademi Teknologi Wahana Peluncur China (China Academy of Launch Vehicle Technology), mengatakan bahwa roket itu memiliki keunggulan reliabilitas yang tinggi, siklus peluncuran yang pendek, dan kapasitas angkut menengah. Saat ini, roket itu melakukan peluncuran satelit pengindraan jauh, satelit penelitian ilmiah, dan konstelasi satelit komersial.Dikatakan Ma, roket Long March yang memiliki masa tugas terlama itu akan terus memikul lebih banyak misi bagi China. Roket tersebut akan mempertahankan frekuensi peluncuran tahunan sebanyak lebih dari 10 kali selama periode 2021-2025.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

SpaceX targetkan uji coba peluncuran roket raksasa Starship pada pertengahan November
Indonesia
•
04 Nov 2023

China jadi negara pertama yang berhasil terapkan teknologi energi hidrogen di Antarktika
Indonesia
•
07 Mar 2025

Pankreas buatan bantu pengidap diabetes akhiri injeksi insulin harian
Indonesia
•
03 Feb 2026

China akan luncurkan wahana penjelajah Bulan berikutnya sekitar 2024
Indonesia
•
01 Oct 2023
Berita Terbaru

Pola makan vegan dan vegetarian mman bagi pertumbuhan bayi
Indonesia
•
10 Feb 2026

Hidrogen dan manufaktur hijau, kunci penting transisi energi rendah karbon
Indonesia
•
10 Feb 2026

Studi sebut perubahan iklim picu lonjakan infeksi serius di wilayah terdampak banjir
Indonesia
•
09 Feb 2026

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026
