Dubes RI untuk Tunisia promosikan Islam Indonesia di Radio Zaitunah

Dubes RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi (kanan) berbicara tentang sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia, di Radio Zaitunah Tunisia, pada 23 Juni 2022. (KBRI di Tunis)

Wajah umat Islam yang selalu tersenyum dan ramah pada semua orang merupakan kesan positif bagi para ulama Tunisa.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Dubes RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, didampingi oleh Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia dan dosen hadits Universitas Zaitunah (‘Umar Shibli), memenuhi undangan Radio Zaitunah, salah satu stasiun Radio terpopuler di Tunisia pada 23 Juni 2022. 

“Saya diminta menjelaskan sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia serta moderasi Islam yang menjadi arus utama di Indonesia,” kata Dubes Zuhairi Misrawi dalam pernyataan yang disiarkan Kementerian Luar Negeri RI, Selasa.   

Wajah umat Islam yang selalu tersenyum dan ramah pada semua orang merupakan kesan positif, menjadikan para ulama di Tunisia ingin mengetahui lebih jauh tentang pendidikan dan pengamalan Islam di Indonesia, ujar Dubes RI yang merupakan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu. 

Dalam siaran langsung di radio itu, dia juga menjelaskan mengenai peran besar pesantren yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan pengaruh buku-buku ulama progresif Tunisia seperti Ibn Ashurlah yang menjadikan Islam di Indonesia memiliki karakter yang selalu ramah, sopan dan moderat.

islam indonesia tunisia
Dubes RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi (kanan) berbicara tentang sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia, di Radio Zaitunah Tunisia, pada 23 Juni 2022. (KBRI di Tunis)

Pondok pesantren

Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an. Dalam Bahasa Jawa kata ‘santri’ berarti murid. Sedangkan istilah pondok berasal dari bahasa Arab, funduuq (فندوق) yang berarti penginapan.  

Khusus di Aceh, pesantren disebut dayah.

Biasanya, pesantren dipimpin oleh seorang kyai.  Dalam mengatur kehidupan di pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior yang disebut lurah pondok dan bertugas mengurus adik-adik kelasnya.

Para santri belajar dan tinggal di pondok pesantren, dan hidup terpisah dari orangtua dan keluarga mereka agar dapat belajar hidup mandiri dan meningkatkan hubungan dengan Allah ﷻ dan kyai mereka.

Berkaitan dengan istilah, ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan sebagai tempat santri.

Kata santri berasal dari kata cantrik (bahasa Sanskerta, atau mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. 

Pesantrenan kemudian dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 3 Juli 1922, dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan.

Istilah santri juga ada dalam bahasa Tamil yang berarti guru mengaji, sedangkan antropologi C.C Berg berpendapat, kata tersebut berasal dari istilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu.

Terkadang santri juga dianggap sebagai gabungan kata ‘saint’ (manusia baik) dengan suku kata ‘tra’ (suka menolong), sehingga pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan