Produksi melimpah, minum teh harus jadi budaya Indonesia

Produksi melimpah, minum teh harus jadi budaya Indonesia
Seorang pengunjung tengah menikmati aroma Teh63 asal Taiwan di sebuah acara pameran di Jakarta, Selasa (8/10/2019). (Indonesia Window)

Jakarta (Indonesia Window) – Perkebunan teh yang banyak ditemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Utara menyumbang produksi teh Indonesia sebesar 132.000 ton metrik pada 2015.

Walau menempati posisi ketujuh sebagai produsen teh dunia, Indonesia belum mengembangkan minum teh sebagai budaya yang populer di kalangan masyarakat di tanah air untuk itu Asosiasi Teh Nasional (ATI) dan PT Perkebunan Nasional (PT PN) menyelenggarakan Kompetisi Teh Nasional pertama di Bandung pada Jumat (18/10).

Menurut Direktur PTPN, Wahyu, minuman teh belum dihargai oleh masyarakat Indonesia dan masih kalah bersaing dengan produk teh luar negeri yang memiliki harga kompetitif. Hal tersebut dikarenakan  belum kuatnya branding produk teh Indonesia dan kualitas teh yang belum bisa bersaing dengan produk dari negara-negara lain.

Budaya

Ketua ATI Dede Kusdiman mengatakan juara kompetisi nasional teh tersebut akan berpartisipasi dalam acara serupa di Korea dan lomba tingkat dunia lainnya.

Selain itu, kompetisi itu diharapkan dapat mempopulerkan budaya minum teh di tanah air, seperti budaya nyanut di Garut dan ngopi di Ciamis yang menyesap teh panas dengan pisang goreng dan singkong goreng.

Salah satu produk teh asal Taiwan, Teh63, yang berpartisipasi dalam Kompetisi Teh Nasional mengenalkan budaya minum teh yang dikenal dengan Gong Fu Tea atau Kung fu Cha.

Jika minum teh menjadi budaya di masyarakat luas, seperti yang ditemukan di China dan Jepang, diharapkan produksi teh di tanah air akan meningkat sehingga membantu menyejahterakan para petani dan pemetik teh, serta membuka lebih banyak lapangan kerja di sektor industri teh.

Upaya mempopulerkan minum teh di tanah air diharapkan semakin berhasil dengan dipilihnya Wakil Bupati Bandung, Hengky Kurniawan, sebagai duta teh Indonesia.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here