
China capai kemajuan signifikan dalam pengendalian polutan organik persisten

Foto dari udara yang diabadikan pada 11 Juli 2023 ini memperlihatkan pemandangan salah satu ruas Sungai Wujiang di Zhucang, wilayah Weng'an, Provinsi Guizhou, China barat daya. (Xinhua/Yang Wenbin)
Polutan organik persisten (POP), yang dicirikan oleh persistensinya di lingkungan, potensi bioakumulasi, dan kemampuannya untuk melakukan perjalanan jarak jauh, memiliki dampak yang merugikan bagi kesehatan manusia dan lingkungan ekologis.
Beijing, China (Xinhua) – China telah membuat kemajuan luar biasa dalam mengendalikan polutan organik persisten (persistent organic pollutant/POP), dengan berhasil mengeliminasi 29 jenis zat berbahaya tersebut, menurut Menteri Ekologi dan Lingkungan Hidup China Huang Runqiu.POP, yang dicirikan oleh persistensinya di lingkungan, potensi bioakumulasi, dan kemampuannya untuk melakukan perjalanan jarak jauh, memiliki dampak yang merugikan bagi kesehatan manusia dan lingkungan ekologis.Guna mencegah polusi dari POP, komunitas internasional menyepakati Konvensi Stockholm tentang Polutan Organik Persisten, yang mulai berlaku pada 17 Mei 2004, dan mulai berlaku di China pada 11 November di tahun yang sama.Dengan mengeliminasi 29 jenis POP, China telah secara efektif menghentikan produksi dan penggunaan semua polutan yang diuraikan dalam konvensi yang berlaku di negara itu, sehingga mencegah produksi tahunan dan pelepasan ratusan ribu ton POP ke lingkungan, kata Huang.Sebagai contoh, intensitas emisi dioksin dari industri-industri utama di China telah menurun secara signifikan. Sejak mencapai puncaknya pada 2012, total emisi dioksin di atmosfer secara bertahap berkurang, yang menghasilkan penurunan konsentrasi dioksin di lingkungan atmosfer.
Seekor bangau mahkota merah jantan (kiri) menjaga pasangannya yang sedang menetaskan telur di dekat sarang mereka di Cagar Alam Nasional Zhalong di Qiqihar, Provinsi Heilongjiang, China timur laut, pada 7 Mei 2024. Cagar Alam Nasional Zhalong telah membuat rencana terperinci untuk memastikan lingkungan yang ideal bagi burung bangau mahkota merah yang hidup di penangkaran selama musim kawin. Cagar alam tersebut dijuluki sebagai 'rumah bagi bangau mahkota merah' di China, dan berfungsi sebagai habitat serta basis reproduksi terbesar di dunia untuk bangau mahkota merah liar. Hingga saat ini, lebih dari 380 ekor bangau mahkota merah yang dikembangbiakkan di penangkaran telah dilepaskan ke alam liar. (Xinhua/Wang Yonggang)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Analis: Taiwan lanjutkan peran sebagai produsen utama ‘chip’ dunia
Indonesia
•
10 Feb 2022

China akan percepat pembangunan sistem pemantauan lingkungan hidup modern
Indonesia
•
08 May 2024

Ilmuwan temukan jejak penting dinosaurus periode Jurassic Awal di China
Indonesia
•
26 Nov 2025

Konsumsi alkohol berkaitan dengan peningkatan risiko kanker
Indonesia
•
24 Apr 2026


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
