
Pakar Australia peringatkan risiko kepunahan platipus

Platipus merupakan hewan yang luar biasa. Mereka adalah hewan yang sangat ikonik. Karena perpecahan purba, platipus memiliki karakteristik yang sangat unik. Salah satunya adalah mamalia yang bertelur. Hewan tersebut memiliki paruh yang sangat sensitif seperti bebek. Mereka memiliki selaput untuk berenang di air. (Xinhua)
Platipus dan spesies air tawar lainnya terdampak oleh aktivitas yang berhubungan dengan manusia seperti pembangunan bendungan, erosi sungai, jalan raya, dan polusi.
Sydney, Australia (Xinhua) – Seorang peneliti Australia baru-baru ini memperingatkan risiko kepunahan yang mengancam platipus, salah satu mamalia paling eksotis dalam sejarah evolusi Bumi."Platipus merupakan hewan yang luar biasa. Mereka adalah hewan yang sangat ikonik. Karena perpecahan purba, platipus memiliki karakteristik yang sangat unik. Salah satunya adalah mamalia yang bertelur. Hewan tersebut memiliki paruh yang sangat sensitif seperti bebek. Mereka memiliki selaput untuk berenang di air. Mereka memiliki karakteristik yang unik. Hewan ini memiliki lima kromosom seks, dan juga memiliki taji berbisa. Jadi, karakteristik yang cukup unik ini merupakan ciri khas platipus," jelas Gilad Bino, seorang peneliti dari Pusat Ilmu Ekosistem, Universitas New South Wales (UNSW), Australia.Dia juga merupakan anggota Platypus Conservation Initiative, yang telah mempelajari platipus selama 10 tahun."Dalam 200 tahun terakhir, kita telah menyaksikan perubahan masif dalam lingkungan hidup di Australia melalui pembukaan lahan dan masuknya spesies invasif. Sayangnya, platipus dan spesies air tawar lainnya terdampak oleh aktivitas yang berhubungan dengan manusia seperti pembangunan bendungan, erosi sungai, jalan raya, dan polusi. Bahkan platipus diburu untuk diambil bulunya sampai sekitar 100 tahun yang lalu. Jadi, semua dampak ini telah menyebabkan penurunan penyebaran dan populasi platipus. Kita menyaksikan di banyak tempat, platipus lenyap. Kita menyaksikan kepunahan lokal platipus."Platypus Conservation Initiative didirikan pada 2016 sebagai bagian dari Pusat Ilmu Ekosistem. Tujuannya adalah untuk menggunakan penelitian ilmiah, memperbaiki pengelolaan, dan meningkatkan kesadaran guna mengurangi risiko kepunahan platipus.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Triliuner Saudi Pangeran Alwaleed luncurkan pusat filantropi di metaverse
Indonesia
•
20 Nov 2022

Seskab Teddy: Presiden Prabowo dan Presiden MBZ Sepakat Perkuat Kemitraan
Indonesia
•
27 Feb 2026

COVID-19 – Pembiayaan pandemik global capai 34,4 miliar dolar AS
Indonesia
•
17 Feb 2022

KTT ASEAN-Australia: Indonesia Ajak Australia lakukan kerja sama inklusif di Indo-Pasifik
Indonesia
•
12 Nov 2022


Berita Terbaru

Idul Fitri 1447H - Mudik Lebaran 2026 di seluruh Indonesia diprediksi capai 143,9 juta perjalanan
Indonesia
•
19 Mar 2026

Flash - Pemerintah RI tetapkan 1 Syawal 1447H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026
Indonesia
•
19 Mar 2026

Indonesia jajaki kerja sama AI pertanian dengan Guangxi, China
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kedubes Iran kecam AS, Israel atas serangan yang tewaskan 175 siswi tak berdosa
Indonesia
•
15 Mar 2026
