Tim ilmuwan China temukan target molekuler baru untuk ciptakan pestisida ramah lingkungan

Seorang pakar China memberikan instruksi kepada seorang petani setempat untuk menanam paprika di Desa Caldeiras, Pulau Sao Tome, Sao Tome dan Principe, pada 15 Juli 2023. (Xinhua/Han Xu)
Pestisida ramah lingkungan yang aman dan efisien menawarkan solusi menjanjikan untuk memerangi resistansi pestisida pada hama.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah penelitian terbaru yang dilaksanakan oleh tim ilmuwan China berhasil mengidentifikasi target molekuler baru untuk mengembangkan pestisida ramah lingkungan yang aman dan efisien, menawarkan solusi menjanjikan untuk memerangi resistansi pestisida pada hama.Mengutip data statistik dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), para peneliti dari Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/CAAS) mengatakan bahwa hama tanaman menyebabkan hilangnya produksi pertanian global sebesar sekitar 40 persen, yang mengakibatkan kerugian ekonomi lebih dari 220 miliar dolar AS setiap tahunnya."Mengembalikan hasil pertanian yang hilang akibat hama merupakan tugas yang menantang," kata Yang Qing, seorang peneliti dari Agricultural Genomics Institute at Shenzhen (AGIS) di bawah naungan CAAS.Berbagai metode pengendalian hama, seperti penyemprotan pestisida, penggunaan aroma untuk menarik hama, dan pengenalan musuh alami, telah dicoba. Namun, efektivitasnya belum memuaskan karena resistensi hama terhadap pestisida yang semakin meningkat dan tingginya biaya yang dibutuhkan, jelas Yang."Kita membutuhkan pestisida yang dirancang khusus untuk menargetkan fitur struktural dan fungsi fisiologis hama yang unik. Dikenal akan kekhususannya yang tinggi, keamanan, efisiensi, dan minimnya pencemaran lingkungan, pestisida tertarget ini sering disebut sebagai pestisida ramah lingkungan," lanjutnya.Kunci untuk mengembangkan pestisida tertarget terletak pada identifikasi target molekuler yang tepat. Target molekuler adalah molekul biologis atau protein spesifik pada tingkat molekuler yang direspons oleh pestisida, yang secara langsung memengaruhi aktivitas kehidupan hama, imbuh Yang.Tim peneliti yang dipimpin oleh Yang menemukan jenis protein unik yang dikenal sebagai transporter ABCH.Penelitian mereka mengungkap bahwa protein ABCH bertanggung jawab untuk membawa lipid ke kutikula serangga, yang berkontribusi pada pembentukan penghalang lipid serangga. Protein ini juga terkait dengan resistansi pestisida pada hama.Protein ABCH terdapat pada semua serangga dan artropoda lainnya, tetapi tidak ada pada manusia dan mamalia lainnya serta tanaman, menjadikannya target molekuler yang ideal untuk membuat pestisida, menurut para peneliti.Penelitian ini menemukan mekanisme interaksi yang unik antara transporter ABCH, molekul lipid, dan molekul insektisida. Para peneliti juga berhasil mengidentifikasi inhibitor molekul kecil yang dapat menahan fungsi transportasi ABCH dan mengidentifikasi bahan-bahan efektif yang dapat langsung digunakan dalam pembuatan pestisida ramah lingkungan.Penelitian ini menandai terobosan signifikan di bidang entomologi dan studi target pestisida, meletakkan dasar penting untuk pengembangan pestisida hijau, kata Yang.Temuan penelitian ini dipublikasikan dalam edisi terbaru jurnal akademis Cell.*1 dolar AS = 16.159 rupiahLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

China berhasil kumpulkan 124.000 sumber daya plasma nutfah pertanian baru
Indonesia
•
05 Apr 2023

Sebanyak 33 persen dari hutan hujan yang tersisa dunia ditemukan di Brasil
Indonesia
•
29 Oct 2021

Anak macan tutul salju dilepasliarkan di Tibet, China
Indonesia
•
05 Dec 2022

Penelitian ungkap Dataran Tinggi Qinghai-Xizang jadi lebih hangat, lebih basah, dan lebih hijau
Indonesia
•
20 Aug 2024
Berita Terbaru

Stasiun Mohe, stasiun penerima data satelit paling utara di China
Indonesia
•
30 Jan 2026

Ilmuwan kembangkan kristal baru, capai terobosan dalam ‘output’ laser ultraviolet vakum
Indonesia
•
30 Jan 2026

Tim ilmuwan manfaatkan baterai kuantum untuk jadi pemasok daya super bagi komputer kuantum
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Ekspedisi China ungkap fenomena bukaan es di Antarktika
Indonesia
•
30 Jan 2026
