Ekonom catat pertumbuhan lebih lambat untuk Malaysia pada 2023

Orang-orang berkumpul di depan Menara Kembar Petronas untuk menyambut datangnya Tahun Baru di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Desember 2022. (Xinhua/Zhu wei)
Pertumbuhan ekonomi Malaysia diperkirakan akan melambat menjadi 4 persen tahun ini setelah lonjakan 8,7 persen tahun lalu, yang mencerminkan dampak positif dari pembukaan ekonomi secara penuh.
Jakarta (Indonesia Window) – Sejumlah ekonom pada Senin (13/2) mengatakan bahwa pertumbuhan Malaysia akan melambat pada 2023 di tengah lemahnya permintaan eksternal setelah negara tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 8,7 persen pada 2022.Lembaga riset Hong Leong Investment Bank mengatakan dalam sebuah catatan bahwa mengingat adanya berbagai tantangan eksternal dan penurunan efek basis, pihaknya mempertahankan ekspektasinya bahwa Malaysia tahun ini akan tumbuh dengan laju yang lebih moderat, yaitu 4 persen.Kendati demikian, lembaga riset tersebut mengungkapkan bahwa pembukaan kembali China baru-baru ini diharapkan akan membantu mendorong pemulihan kunjungan wisatawan dan memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekspor.Permintaan domestik juga diperkirakan akan terus mendukung pertumbuhan, meski dengan laju yang lebih moderat, di tengah pemulihan bertahap berkelanjutan di pasar tenaga kerja.Adapun menurut Maybank Investment Bank, pertumbuhan ekonomi Malaysia diperkirakan akan melambat menjadi 4 persen tahun ini setelah lonjakan 8,7 persen tahun lalu, yang mencerminkan dampak positif dari pembukaan ekonomi secara penuh.Prospek pertumbuhan yang lebih lambat terutama mencerminkan efek dari inflasi yang tinggi dan suku bunga yang tinggi terhadap belanja konsumen dan penurunan ekonomi global terhadap perdagangan eksternal, urai lembaga riset itu lebih lanjut.Beberapa hal yang mengimbangi sejumlah tantangan di atas meliputi penurunan "kelebihan tabungan" rumah tangga/individu dan pemulihan pariwisata sebagai penopang bagi belanja konsumen, momentum pertumbuhan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang positif, dan pertumbuhan yang lebih cepat di China mengurangi penurunan di Amerika Serikat dan Eropa.Lembaga riset Public Investment Bank juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Malaysia sebesar 3,8 persen di saat pihaknya melihat bahwa risiko eksternal jelas meningkat menyusul kekhawatiran terkait perlambatan ekonomi global."Ke depannya, menyusul laju ekspansi yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal keempat 2022, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi pada 2023 akan bergantung pada kekuatan permintaan dari perekonomian-perekonomian maju," ungkap lembaga riset tersebut.Terlepas dari ketidakpastian eksternal, lembaga riset itu meyakini bahwa ekonomi negara tersebut akan tetap stabil, didukung oleh permintaan domestik yang kuat serta peningkatan lebih lanjut dalam kondisi pasar tenaga kerja.Memasuki 2023, lembaga riset itu memperkirakan bahwa ekonomi Malaysia akan lebih mengandalkan pertumbuhan yang dihasilkan secara internal, dengan pertumbuhan dari berbagai aktivitas investasi swasta kemungkinan akan dirangsang melalui belanja modal yang berkelanjutan, terutama di sektor manufaktur dan jasa.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

RCEP pastikan stabilitas rantai industri dan rantai pasokan
Indonesia
•
05 Jul 2023

Produksi batu bara di Shanxi China naik 8,9 persen pada Januari-November
Indonesia
•
21 Dec 2022

65,8 persen hotel di Arab Saudi berada di wilayah Makkah
Indonesia
•
01 Sep 2020

Ford akan pangkas 4.000 pekerjaan di Eropa imbas lesunya permintaan EV di pasar Benua Biru
Indonesia
•
22 Nov 2024
Berita Terbaru

Tinjauan Ekonomi – Nominasi ketua The Fed dari Trump tuai pro dan kontra
Indonesia
•
07 Feb 2026

Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara perkuat ketahanan ekonomi makro Indonesia
Indonesia
•
07 Feb 2026

Produsen otomotif China hadirkan lebih banyak NEV di ajang IIMS 2026
Indonesia
•
06 Feb 2026

Perusahaan China teken kerja sama untuk dorong proyek integrasi baja dan kokas di Indonesia
Indonesia
•
06 Feb 2026
