
Feature – Teknologi digital China berdayakan penanaman durian di Thailand

Foto yang diabadikan pada 24 Mei 2024 ini menunjukkan buah durian di sebuah kebun durian yang terletak di Provinsi Chanthaburi, Thailand. (Xinhua/Sun Weitong)
Perangkat Internet of Things pertanian cerdas dapat memberikan layanan meteorologi yang lebih baik, menentukan waktu penyemprotan dan pemeliharaan berdasarkan data, serta memantau kadar kelembapan tanah untuk melihat apakah tanah tersebut cocok untuk pertumbuhan durian, sehingga sangat meningkatkan pengelolaan kebun secara ilmiah.
Chanthaburi, Thailand (Xinhua) – Di sebuah kebun durian di Provinsi Chanthaburi, Thailand, seorang pemilik kebun Thailand dan seorang pemengaruh (influencer) media sosial China mempromosikan durian kepada warganet China melalui platform e-commerce siaran langsung daring (livestreaming) Tmall.Provinsi Chanthaburi, yang terletak sekitar 250 kilometer dari Bangkok, ibu kota Thailand, merupakan daerah penanaman durian yang penting di Thailand bagian timur.Kosai, seorang pemilik kebun berusia 32 tahun, mengambil alih perkebunan durian milik orang tuanya lima tahun yang lalu dan kini perkebunan itu telah memiliki lebih dari 400 pohon durian."Ini adalah durian Monthong Thailand yang dagingnya lembut dan rasanya manis. Warganet China, Anda harus membeli dan mencicipinya," kata Kosai.Yang membuat Kosai bangga adalah bahwa kebun miliknya merupakan kebun pintar yang dibangun oleh Asosiasi Komersial untuk Keberlanjutan Pertanian (Commercial Association for Sustainability of Agriculture/CASA) di Thailand bersama Pusat Kerja Sama Ekonomi Luar Negeri (Foreign Economic Cooperation Center/FECC) di bawah Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China.Internet of Things (IoT) yang dipasang oleh pihak China di kebun milik Kosai, seperti pemantauan meteorologi, ketinggian air, dan kelembapan tanah, dapat memberikan dukungan data untuk penanaman durian secara ilmiah dan peningkatan kualitas buah."Perangkat Internet of Things pertanian cerdas ini dapat memberikan layanan meteorologi yang lebih baik bagi kami dan kami dapat menentukan waktu penyemprotan dan pemeliharaan berdasarkan data. Pada saat yang sama, kami juga dapat memantau kadar kelembapan tanah untuk melihat apakah tanah tersebut cocok untuk pertumbuhan durian, yang sangat meningkatkan pengelolaan kebun secara ilmiah," jelas Kosai.Lebih lanjut Kosai menambahkan bahwa melalui pemantauan, mereka mengetahui bahwa cuaca tahun ini panas dan tanahnya kering, yang tidak hanya membantu mereka memahami situasi penyiraman kebun, tetapi juga membantu mereka memperhitungkan jumlah air yang dibutuhkan untuk seluruh siklus pertumbuhan durian.Pada 2023, FECC meluncurkan Program Percontohan Pengembangan Terpadu Perkebunan Pintar di Thailand dan membangun kebun pintar percontohan di Thailand."Kami memilih durian sebagai produk percontohan karena potensinya yang tinggi dan ekspornya yang besar ke China, dalam rangka mempromosikan pengembangan digital budi daya perkebunan buah, rantai industri dan pemasaran, meningkatkan kualitas produk pertanian dan manfaat output, serta meningkatkan kerja sama perdagangan produk pertanian antara China dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN)," kata Wakil Direktur FECC Zhang Bin.Untuk mengeksplorasi pasar China, FECC juga bekerja sama dengan platform e-commerce China guna mengembangkan saluran penjualan daring dan mengadakan kegiatan siaran langsung daring (livestreaming).
Kosai, seorang pemilik kebun Thailand, menerima wawancara dengan Xinhua di kebun durian yang terletak di Provinsi Chanthaburi, Thailand, pada 24 Mei 2024. (Xinhua/Sun Weitong)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Inovasi iptek ubah gurun jadi lahan yang dapat ditanami
Indonesia
•
20 Jun 2023

China luncurkan platform numerik satelit meteorologi yang terintegrasi
Indonesia
•
16 Nov 2024

Perubahan iklim berpotensi pangkas populasi rusa Arktika hingga 80 persen pada 2100
Indonesia
•
19 Aug 2025

Peneliti China informasi dalam urutan DNA berbasis elektroda
Indonesia
•
02 Dec 2021


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
