
Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol

Geely Auto Indonesia resmi meluncurkan Geely Starray EM-i, mobil hybrid pertamanya di Indonesia, dan mengumumkan harga jual sebesar Rp499 juta per unit di Tangerang, Provinsi Banten, pada 30 Oktober 2025. (Xinhua/Geely Auto Indonesia)
Penjualan kendaraan ramah lingkungan berbasis baterai listrik (EV) di Indonesia melonjak lebih dari dua kali lipat pada tahun lalu, dengan sejumlah merek China seperti BYD, Wuling, hingga pendatang baru Geely menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) - Penjualan kendaraan ramah lingkungan berbasis baterai listrik (EV) di Indonesia melonjak lebih dari dua kali lipat pada tahun lalu, dengan sejumlah merek China seperti BYD, Wuling, hingga pendatang baru Geely menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), jumlah penjualan grosir (wholesale) EV nasional tahun lalu mencapai 103.931 unit, naik 141 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Bukan hanya volume penjualan yang meningkat, pangsa EV terhadap penjualan mobil secara umum juga meningkat. Pada 2024, pangsa EV hanya 5 persen terhadap total penjualan wholesale nasional, dan melonjak ke angka 13 persen tahun lalu.
Pertumbuhan pesat ini tentunya tidak lepas dari kinerja positif sejumlah pabrikan EV China yang secara kumulatif menyumbang lebih dari 85 persen penjualan. BYD dan Wuling yang menjadi dua merek terlaris menyumbang sekitar 57 persen dari penjualan EV nasional tahun lalu. Selain dua merek tersebut, pendatang baru asal China seperti Denza, Jaecoo, dan Geely yang baru masuk ke Indonesia awal tahun lalu juga berhasil menjual ribuan unit.
Di luar segmen EV, penjualan mobil merek China secara keseluruhan juga dapat disebut sukses, dengan sejumlah model baru berhasil menarik perhatian konsumen.
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, kepada Xinhua belum lama ini menyebut terdapat sejumlah faktor yang memperkuat penerimaan publik terhadap merek mobil asal China. Faktor-faktor itu di antaranya harga yang terjangkau, fitur dan teknologi yang canggih, hingga komitmen lokalisasi produksi dan ketersediaan layanan purnajual.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Stasiun metro Shanghai terima transaksi kartu bank asing untuk pembelian tiket
Indonesia
•
21 Apr 2024

China gelontorkan 75 miliar dolar AS untuk infrastruktur dalam negeri
Indonesia
•
05 Jul 2022

China perluas jaringan transportasi untuk dorong pembangunan
Indonesia
•
24 Feb 2023

Sekjen PBB sambut baik perpanjangan kesepakatan ekspor biji-bijian Laut Hitam
Indonesia
•
18 Nov 2022


Berita Terbaru

Kasus korupsi di Singapura menurun pada 2025
Indonesia
•
30 Apr 2026

Atasi lonjakan harga bahan bakar, Thai AirAsia kurangi jadwal penerbangan hingga 30 persen
Indonesia
•
30 Apr 2026

Perubahan tarif akan tambah 1,1 triliun dolar AS ke defisit anggaran ASdalam 10 tahun
Indonesia
•
30 Apr 2026

UEA keluar dari OPEC, sejalan dengan visi ekonomi jangka panjang
Indonesia
•
30 Apr 2026
