
COVID-19 – AS akan uji Paxlovid untuk obati Long COVID

Sejumlah pejalan kaki melewati sebuah poster yang mengiklankan lokasi pengujian COVID-19 di New York, Amerika Serikat, pada 12 Mei 2022. (Xinhua/Michael Nagle)
Pengobatan Long COVID dengan antivirus Paxlovid dari Pfizer Inc. akan diuji pada 1.700 sukarelawan berusia 18 tahun ke atas dalam program RECOVER Initiative oleh Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat.
Jakarta (Indonesia Window) – Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan melakukan uji coba obat antivirus Paxlovid dari Pfizer Inc. sebagai pengobatan pertama yang akan dipelajarinya pada pasien Long COVID (infeksi virus corona yang berkepanjangan).Uji coba tersebut berada di bawah RECOVER Initiative oleh Institut Kesehatan Nasional AS (The US National Institutes of Health) senilai 1 miliar dolar AS, kata penyelenggara penelitian pada Kamis (27/10).Kondisi medis yang kompleks ini melibatkan lebih dari 200 gejala mulai dari kelelahan dan gangguan kognitif hingga nyeri, demam, dan jantung berdebar yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah infeksi COVID-19.Menurut perincian penelitian, yang di-posting di Clinicaltrials.gov, uji coba terkontrol plasebo secara acak akan menguji pengobatan Pfizer atau plasebo pada 1.700 sukarelawan berusia 18 tahun ke atas.Duke Clinical Research Institute mengawasi penelitian tersebut, yang dijadwalkan akan dimulai pada 1 Januari 2023.Uji coba akan menyelidiki teori utama penyebab Long COVID, yang menyatakan bahwa fragmen virus bertahan di jaringan beberapa individu, sehingga menyebabkan gejala yang berkepanjangan.Pasien dalam beberapa studi kasus telah melaporkan perbaikan gejala mereka setelah menggunakan pengobatan antivirus Pfizer, dan beberapa dokter telah meminta obat ini untuk dipelajari lebih lanjut dalam sebuah penelitian besar yang ketat secara ilmiah pada pasien dengan kasus Long COVID.Paxlovid, yang menggabungkan pil Pfizer baru dengan antivirus ritonavir lama, saat ini diizinkan untuk digunakan pada hari-hari pertama infeksi COVID guna mencegah penyakit parah pada pasien berisiko tinggi.Perkiraan prevalensi Long COVID berkisar antara 5 hingga 50 persen orang yang pernah terinfeksi COVID-19. Kondisi ini memengaruhi orang yang memiliki COVID-19 dengan gejala ringan dan berat, termasuk anak-anak, dan bisa cukup parah untuk membuat orang tidak mampu bekerja.Pfizer tidak segera menanggapi permintaan komentar.Sumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Prof. Saiful Mujani: Mathla’ul Anwar harus tetap Inklusif
Indonesia
•
13 Mar 2021

COVID-19 – AS akan akhiri status darurat pekan depan
Indonesia
•
03 May 2023

Lebih dari 80 persen pasien COVID-19 tidak mengalami gejala ringan
Indonesia
•
24 Apr 2020

Gelombang panas kikis pendapatan para sopir taksi di Myanmar
Indonesia
•
06 May 2024


Berita Terbaru

Badan Pengawas Obat AS tarik hampir 90.000 botol ibuprofen anak secara nasional
Indonesia
•
21 Mar 2026

Angka kematian anak balita turun lebih dari setengahnya sejak tahun 2000
Indonesia
•
19 Mar 2026

Idul Fitri 1447H – Warga Afghanistan bersiap sambut Idul Fitri di tengah sanksi dan kemiskinan
Indonesia
•
19 Mar 2026

Di New York, Taiwan tunjukkan kepeloporan dalam kesetaraan gender
Indonesia
•
17 Mar 2026
