
Penelitian: Diagnosis kanker di AS menurun selama pandemik

Tenaga kesehatan membawa seorang pasien ke sebuah rumah sakit di New York, Amerika Serikat, pada 13 Desember 2021. (Xinhua/Wang Ying)
Diagnosis kanker payudara, serviks, dan kolorektal turun sekitar 6 persen hingga 7 persen antara 2019 dan 2020 dan tambahan 5 persen hingga 6 persen antara 2020 dan 2021
Jakarta (Indonesia Window) – Diagnosis untuk berbagai kanker umum melalui metode skrining saat ini belum kembali ke tingkat pra-pandemi. Hal ini berpotensi menyulitkan proses perawatan dan penyembuhan ketika penyakit ini semakin berkembang, menurut data AS yang diterbitkan pada Kamis (17/11).Pada tahun 2020 – tahun pertama pandemik – tingkat rata-rata skrining untuk kanker payudara turun 40 persen, kanker serviks turun 36 persen, dan kanker kolorektal turun 45 persen, dibandingkan tiga tahun sebelumnya, menurut analisis medis data dari 306 juta orang dewasa.Diagnosis kanker payudara, serviks, dan kolorektal turun sekitar 6 persen hingga 7 persen antara 2019 dan 2020 dan tambahan 5 persen hingga 6 persen antara 2020 dan 2021, menurut penemuan para peneliti.Penurunan diagnosis "tidak berarti kanker ini tiba-tiba menjadi kurang umum," kata pemimpin studi Allison Oakes dari perusahaan analitik data Trilliant Health di Brentwood, Tennessee.“Sebaliknya, itu berarti ada orang dengan kanker yang akan didiagnosis pada stadium penyakit yang lebih parah,” imbuhnya.Pada akhir tahun 2021, tingkat skrining telah pulih tetapi masih di bawah tingkat pra-pandemi, demikian laporan para peneliti yang diterbitkan dalam jurnal medis JAMA Oncology.Analisis yang sedang berlangsung terhadap data tahun 2022 menunjukkan bahwa tingkat skrining pada tahun 2022 tidak mungkin meningkat secara dramatis, kata Oakes.“Kami tidak melihat perubahan perilaku yang signifikan saat melihat dari kuartal ke kuartal,” tambahnya.Pemanfaatan layanan kesehatan untuk masalah non-COVID, non-kesehatan mental pada kuartal pertama 2022 adalah 6,2 persen lebih rendah dibandingkan kuartal pertama 2019, kata Oakes.“Tidak hanya orang-orang yang melewatkan skrining kanker tahunan mereka, tetapi mereka juga kurang menggunakan perawatan primer,” kata Oakes.“Sementara orang Amerika tampaknya kembali ke kehidupan sehari-hari yang normal, baik bekerja di kantor atau bepergian, banyak dari mereka masih menghindari sistem perawatan kesehatan,” ujarnya.Sumber: ReutersLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pasien Indonesia berhasil transplantasi sel punca di Taiwan
Indonesia
•
06 Nov 2020

Feature – TCM genjot perkembangan pengobatan tradisional Indonesia
Indonesia
•
27 Jul 2025

Xinjiang di China akan investasikan 182 juta yuan untuk pendidikan prasekolah
Indonesia
•
16 Feb 2023

Raih 201 emas, kontingen China capai target di Asian Games Hangzhou
Indonesia
•
10 Oct 2023


Berita Terbaru

Feature – ‘Becoming Chinese’ di Kunming, perjalanan menelusuri akar budaya seorang ‘blogger’ Tionghoa-Amerika
Indonesia
•
30 Apr 2026

Indonesia-China perkuat kerja sama pendidikan vokasi dalam Forum CITIEA 2026
Indonesia
•
28 Apr 2026

Volume kelima buku ‘Xi Jinping: Tata Kelola China’ edisi bahasa Inggris dipromosikan di Indonesia
Indonesia
•
28 Apr 2026

Afghanistan berisiko kehilangan 25.000 guru dan nakes perempuan per 2030
Indonesia
•
29 Apr 2026
