
Peneliti China kembangkan bahan nano anti-SARS-CoV-2

Seorang tenaga kesehatan mengambil sampel usap (swab) dari seorang pria untuk tes asam nukleat di Sanya, Provinsi Hainan, China selatan, pada 26 Agustus 2022. (Xinhua/Guo Cheng)
Bahan nano anti-SARS-CoV-2 merupakan lembaran senyawa dua dimensi ultratipis yang terbuat dari tembaga, indium, fosfor, dan sulfur (Cuprum, Indium, Phosphorus, and Sulphur/CIPS) sebagai agen baru dalam melawan infeksi SARS-CoV-2.
Jakarta (Indonesia Window) – Tim peneliti China baru-baru ini mengembangkan sebuah bahan nano (nanomaterial) yang menargetkan protein lonjakan (spike protein) varian virus corona SARS-CoV-2, termasuk Delta dan Omicron, serta mendorong eliminasi virus.Penelitian tersebut, yang dirilis dalam jurnal Nature Nanotechnology, mengungkapkan tentang lembaran nano senyawa dua dimensi ultratipis yang terbuat dari tembaga, indium, fosfor, dan sulfur (Cuprum, Indium, Phosphorus, and Sulphur/CIPS) sebagai agen baru dalam melawan infeksi SARS-CoV-2.Para peneliti dari Institut Teknologi Mutakhir Shenzhen di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), Pusat Nanosains dan Teknologi Nasional, Institut Fisika Energi Tinggi di bawah naungan CAS, dan Institut Zoologi Kunming di bawah naungan CAS mengembangkan bahan nano itu beserta mekanisme antivirusnya.Menurut studi tersebut, CIPS menunjukkan kapasitas pengikatan yang sangat tinggi dan selektif untuk domain pengikat reseptor dari protein lonjakan SARS-CoV-2 tipe liar dan variannya, seperti Delta dan Omicron.Pengujian menunjukkan bahwa ketika dikaitkan dengan CIPS, virus itu dengan cepat tereliminasi oleh makrofag inang, menunjukkan bahwa CIPS dapat digunakan untuk menangkap virus corona dan memfasilitasi eliminasi virus oleh inang.Pengujian juga menunjukkan bahwa CIPS dapat menghambat masuknya virus dan infeksi pada sel, organoid, dan tikus, serta secara efektif meredakan peradangan paru-paru pada tikus yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2.Lebih lanjut, studi itu menunjukkan potensi CIPS sebagai sebuah obat nano (nanodrug) untuk terapi yang aman dan efektif guna mengobati infeksi SARS-CoV-2, serta sebagai agen dekontaminasi dan bahan pelapis permukaan untuk mengurangi infektivitas (kemampuan menginfeksi) SARS-CoV-2.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China kembangkan membran baru yang dimodifikasi untuk desalinasi air laut
Indonesia
•
15 Mar 2023

Jumlah mikroplastik naik tiga kali lipat di jalur air Sydney dalam tiga tahun terakhir
Indonesia
•
28 Jan 2026

Indonesia punya 20 jenis burung pengisap madu
Indonesia
•
15 Oct 2019

Ilmuwan berhasil pulihkan satelit Shijian-19, satelit ‘reusable’ dan ‘returnable’ pertama China
Indonesia
•
13 Oct 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Teknologi genetik dan kolaborasi medis dengan China buka harapan bagi pasien penyakit langka di Indonesia
Indonesia
•
28 Oct 2026

Fokus Berita – Era robot buka karier baru di China: Teknisi AI hingga insinyur digital
Indonesia
•
28 Oct 2026

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026
