Peneliti Amerika studi petani Muslim di Kerinci, temukan modernisasi pertanian berdampak pada emosi

Pemandangan pagi daerah persawahan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 11 Juni 2025. (Indonesia Window)
Padi cepat meningkatkan produktivitas dan memungkinkan panen lebih sering, namun di saat yang sama petani merasa kehilangan nilai-nilai tradisional karena bergantung pada pupuk kimia, obat pertanian, dan modal yang lebih besar.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Seorang antropolog dari University of California, Wayne Huang, beberapa waktu lalu meneliti relasi antara Islam dan negara di tingkat desa, dengan lokasi penelitian berada di Kabupaten Kerinci, Jambi.
Selama penelitian etnografi tersebut, fokus penelitian Huang berkembang, hingga dia menemukan modernisasi pertanian melalui Revolusi Hijau tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mengubah cara masyarakat desa memaknai kesejahteraan, kemajuan, dan kehidupan sehari-hari.
Saat ini, Huang merupakan Ph.D. Candidate dari Department of Anthropology, University of California, Santa Cruz (UCSC), Amerika Serikat.
Selama lebih dari satu tahun, dia tinggal bersama masyarakat desa dan mengikuti kehidupan sehari-hari para petani Muslim setempat. Pendekatan etnografi mendalam tersebut telah membantunya memahami keterkaitan antara pertanian, agama, lingkungan, politik lokal, dan hubungan kekerabatan.
Kisah itu diungkapkannya dalam kegiatan ‘Sharing from the Field, Foreign Researcher Final Report’ dengan tema ‘Fast Rice, Slow Change: Living with the Green Revolution’, di Jakarta, pada Kamis (5/2), dikutip dari situs jejaring Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin.
“Saya menyadari bahwa hubungan antara Islam dan negara tidak bisa dipahami tanpa melihat kekerabatan dan relasi sosial yang lebih luas. Dari situ, perhatian saya bergeser pada bagaimana komunitas pedesaan menjaga kebersamaan di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang sangat cepat,” tutur Huang.
Sebagai pintu masuk analisis, dia menggunakan fenomena padi cepat, yakni varietas unggul yang merupakan hasil dari Revolusi Hijau. Dia menilai, padi cepat memang membawa perubahan besar.
“Padi cepat meningkatkan produktivitas dan memungkinkan panen lebih sering. Tetapi di saat yang sama, petani menjadi lebih bergantung pada pupuk kimia, obat pertanian, dan modal yang lebih besar. Ritme kerja mereka juga jadi jauh lebih cepat,” urainya mengisahkan temuan penelitian lapangan yang dilakukannya sejak awal 2024 hingga pertengahan 2025 itu.
Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya berdampak pad aspek ekonomi, tetapi juga secara sosial dan emosional. Melalui cerita para petani lanjut usia, Huang menemukan adanya perasaan yang saling bertentangan terhadap modernisasi pertanian.
“Banyak petani mengatakan hidup mereka sekarang lebih baik dan kebutuhan lebih tercukupi. Tapi mereka juga bercerita tentang rasa lelah, kehilangan, dan ketidakpuasan. Padi tradisional dipandang lebih tahan lama dan dan memiliki nilai keberlanjutan yang kuat,” ujarnya.
Huang menekankan bahwa Revolusi Hijau tidak hanya meninggalkan dampak material, tetapi juga membentuk cara masyarakat memahami kemajuan dan kesejahteraan hingga hari ini.
Dengan menelusuri perjalanan padi cepat dari proses produksi hingga konsumsi, penelitiannya menunjukkan paradoks modernisasi pertanian, yakni peningkatan produktivitas yang berjalan beriringan dengan kelelahan kolektif dan pertanyaan mendasar tentang makna hidup yang lebih baik.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Pusat Riset Kewilayahan BRIN, Fadjar Ibnu Thufail, mengatakan kajian semacam ini penting untuk memperkaya perspektif riset sosial di Indonesia.
“Pengalaman lapangan seperti ini memberi kita pemahaman yang lebih utuh tentang perubahan di tingkat akar rumput, bukan hanya dari angka-angka produksi, tetapi juga dari pengalaman hidup masyarakatnya,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas riset di PRW-BRIN yang diikuti oleh para peneliti serta mahasiswa doktoral dan Ph.D. yang berafiliasi atau mendapatkan dukungan dari PRW.
Menurutnya, kegiatan diskusi tersebut tidak dimaksudkan untuk mempresentasikan hasil akhir penelitian yang sudah final, tetapi untuk berbagi proses penelitian itu sendiri mulai dari tahap awal persiapan, metodologi, tinjauan pustaka, hingga dinamika dan tantangan yang dihadapi selama penelitian lapangan.
“Melalui forum ini, kita berharap dapat saling belajar, berdiskusi, dan memperoleh wawasan baru, baik terkait pendekatan penelitian, tantangan yang dihadapi di lapangan, maupun peluang pengembangan isu-isu riset yang ke depan dapat diperluas melalui kolaborasi bersama,” kata Fadjar.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Indonesia luncurkan satelit komunikasi terbesar di Asia Tenggara
Indonesia
•
14 Sep 2025

Pendidikan bantu tingkatkan kerja sama dan pertukaran antara China dan Indonesia
Indonesia
•
24 Aug 2024

52 smelter butuh lebih dari 4.700 MW
Indonesia
•
29 Jan 2020

Soetta masuk 10 besar bandara tersibuk dunia pada Januari 2022
Indonesia
•
09 Feb 2022
Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Presiden Prabowo doakan keselamatan dan persatuan bangsa
Indonesia
•
08 Feb 2026

Perkuat kemitraan strategis, Indonesia-Australia tandatangani Traktat Keamanan Bersama
Indonesia
•
07 Feb 2026

Opini – Direktur UKW: Wartawan di masa Orde Baru relatif lebih gigih, ketimbang jurnalis era Gen Z
Indonesia
•
06 Feb 2026

Presiden tegaskan komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina melalui Board of Peace
Indonesia
•
05 Feb 2026
