
WHO usulkan peningkatan pajak kesehatan untuk jembatani kesenjangan pembiayaan

Foto yang diabadikan pada 21 Mei 2023 ini menunjukkan logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan latar belakang kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss. (Xinhua/Lian Yi)
Penambahan pajak kesehatan terhadap beberapa produk konsumen bertujuan untuk meningkatkan pendapatan yang cukup guna menutup kesenjangan pendanaan kesehatan global.
Accra, Ghana (Xinhua/Indonesia Window) – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Selasa (5/8) mengusulkan penambahan pajak kesehatan terhadap beberapa produk konsumen guna meningkatkan pendapatan yang cukup untuk menutup kesenjangan pendanaan kesehatan global.Berbicara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kedaulatan Kesehatan Afrika (Africa Health Sovereignty Summit) di Accra, ibu kota Ghana, Ghebreyesus juga menyerukan peningkatan investasi domestik dan reformasi tata kelola yang lebih mendalam untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh di Afrika.Dia mengatakan pembiayaan kesehatan tidak dapat dibahas secara terpisah dari konteks ekonomi yang lebih luas, sembari menyatakan bahwa Afrika berada pada posisi yang kurang menguntungkan dalam struktur ekonomi global saat ini. Afrika kehilangan lebih banyak daripada yang diterimanya melalui bantuan, sehingga menyulitkan pembiayaan sektor kesehatan di benua itu.Dia mengutip contoh pada 2023, saat Afrika menerima bantuan senilai 74 miliar dolar AS namun kehilangan 90 miliar dolar AS akibat arus keluar keuangan gelap dan 55 miliar dolar AS karena pembebasan pajak korporat.*1 dolar AS = 16.388 rupiah"Salah satu solusi praktisnya adalah pajak kesehatan. Kenaikan harga sebesar 50 persen terhadap produk-produk berbahaya seperti tembakau, alkohol, dan minuman berpemanis (sugary drinks) dapat menghasilkan tambahan 3,7 triliun dolar AS secara global dalam waktu lima tahun dan menyelamatkan jutaan nyawa. Selain reformasi domestik, perubahan global merupakan hal yang sangat penting," urai direktur jenderal WHO tersebut.Berbicara mengenai Afrika, Ghebreyesus menuturkan bahwa benua itu membutuhkan kepemimpinan yang mampu melihat peluang dalam krisis. Dia memuji Presiden Ghana John Dramani Mahama atas kepemimpinannya dalam upaya menginterpretasikan kembali arsitektur tata kelola kesehatan global, dan mengangkat isu-isu kesehatan yang dihadapi Afrika ke panggung global.KTT itu diperkirakan akan mengadopsi Inisiatif Accra, sebuah peta jalan yang ambisius dan berorientasi pada tindakan, yang menetapkan tolok ukur baru, prinsip bersama, dan prioritas yang jelas untuk mereformasi tata kelola kesehatan global.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

OKI serukan rencana mendesak untuk dukung Afghanistan
Indonesia
•
19 Dec 2021

Laporan PBB sebut lebih dari 3,45 juta orang mengungsi di Ethiopia
Indonesia
•
22 Jan 2024

CNN: Setidaknya 238.500 anak jadi yatim piatu akibat COVID-19 di AS
Indonesia
•
29 Mar 2023

Komisaris HAM PBB kecam pembantaian yang dilakukan ISF di Tepi Barat
Indonesia
•
05 Jun 2024


Berita Terbaru

Feature – ‘Becoming Chinese’ di Kunming, perjalanan menelusuri akar budaya seorang ‘blogger’ Tionghoa-Amerika
Indonesia
•
30 Apr 2026

Indonesia-China perkuat kerja sama pendidikan vokasi dalam Forum CITIEA 2026
Indonesia
•
28 Apr 2026

Volume kelima buku ‘Xi Jinping: Tata Kelola China’ edisi bahasa Inggris dipromosikan di Indonesia
Indonesia
•
28 Apr 2026

Afghanistan berisiko kehilangan 25.000 guru dan nakes perempuan per 2030
Indonesia
•
29 Apr 2026
