
The Washington Post: Pekerja federal AS diminta tak lagi terapkan ‘work from home’

Seorang jagawana Taman Nasional yang mengenakan masker terlihat di Monumen Washington di Washington DC, Amerika Serikat, pada 29 Juni 2023. (Xinhua/Aaron Schwartz)
Pegawai federal Amerika Serikat diminta tak lagi menerapkan aktivitas bekerja dari rumah (work from home) setelah pandemik berakhir berbulan-bulan lalu.
New York City, AS (Xinhua) – Terlalu banyak pegawai federal di Washington DC, Amerika Serikat (AS), yang terus melakukan aktivitas bekerja dari rumah (work from home) berbulan-bulan setelah pandemik berakhir, dan itu tidak dapat dibiarkan, tulis The Washington Post pada Selasa (1/8) dalam sebuah artikel opini."Di beberapa lembaga, ketidakhadiran pegawai berdampak negatif terhadap layanan pelanggan," sebut artikel yang ditulis oleh Michael R. Bloomberg, salah satu pendiri Bloomberg sekaligus pendiri Bloomberg Philanthropies, yang juga menjabat sebagai wali kota New York City pada 2002 hingga 2013. “Ini sudah berlangsung terlalu lama. Pandemi sudah berakhir. Alasan untuk membiarkan kantor kosong juga harus diakhiri.”Sebuah survei yang dilakukan oleh Kantor Akuntabilitas Pemerintah (Government Accountability Office/GAO) AS baru-baru ini menunjukkan betapa buruknya situasi tersebut. GAO mengukur penggunaan kantor pusat dari 24 lembaga federal selama satu pekan masing-masing pada Januari, Februari, dan Maret. Sebanyak enam dari lembaga-lembaga ini, yakni Departemen Pertanian, Administrasi Layanan Umum, Departemen Perumahan dan Pengembangan Perkotaan, Kantor Manajemen Personalia, Administrasi Usaha Kecil, dan Administrasi Jaminan Sosial, mencatat rata-rata tingkat okupansi kurang dari 10 persen.Rata-rata tingkat okupansi di 17 lembaga tercatat di angka 25 persen atau kurang. Di seluruh 24 lembaga, rata-rata tingkat okupansi tak jauh melebihi angka 20 persen. "Dengan kata lain, kantor-kantor federal sebagian besar kosong," menurut artikel itu.Tidak ada alasan yang tepat mengapa pegawai pemerintah jauh lebih lambat dibandingkan pekerja lainnya untuk kembali bekerja di kantor setidaknya beberapa hari dalam sepekan, terutama ketika ada begitu banyak pekerjaan, mulai dari layanan sosial hingga penegakan hukum, yang membutuhkan kehadiran pegawai secara fisik, imbuh artikel itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

PBB: Aset luar negeri Afghanistan yang dibekukan adalah milik rakyat
Indonesia
•
29 Sep 2022

Konflik di RD Kongo paksa sekitar 78.000 anak mengungsi selama sepekan terakhir
Indonesia
•
13 Feb 2024

95 tewas akibat kelaparan dan penyakit di kamp pengungsi Sudan bagian barat dalam 40 hari terakhir
Indonesia
•
30 Sep 2025

WHO imbau pembatasan masuk terkait COVID-19 berbasis sains dan tak diskriminatif
Indonesia
•
11 Jan 2023


Berita Terbaru

Gelombang panas di Belanda diduga sebabkan 911 kematian berlebih dalam dua pekan
Indonesia
•
16 Jul 2026

Feature – Impian 30 tahun terwujud, seniman keramik Indonesia akhirnya jejakkan kaki di ‘ibu kota porselen dunia’
Indonesia
•
16 Jul 2026

Rumah baru panda raksasa dibuka, Meng Lan si panda viral kini punya habitat super canggih
Indonesia
•
16 Jul 2026

Cuaca panas bikin beruang nekat masuk rumah lansia di Jepang, bongkar kulkas demi makanan
Indonesia
•
15 Jul 2026
