
Pecinta bawang bombai lebih jarang kena diabetes? Ini penjelasan ilmiahnya

Ilustrasi. (Meagan Stone on Unsplash)
Orang-orang yang menyukai rasa dan aroma bawang bombai cenderung memiliki risiko hipertensi dan diabetes tipe 2 yang lebih rendah.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan di Australia telah mengembangkan kerangka genetika menggunakan gen perasa dan penciuman untuk lebih memahami bagaimana pola makan memicu penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker.
Memanfaatkan kerangka itu, tim peneliti di Universitas Queensland (University of Queensland/UQ) menemukan bahwa orang-orang yang menyukai rasa dan aroma bawang bombai cenderung memiliki risiko hipertensi dan diabetes tipe 2 yang lebih rendah, menurut pernyataan UQ yang dirilis pada Rabu (17/6).
Tim peneliti menganalisis data dari 160.000 lebih orang dewasa di UK Biobank, memeriksa 325 gen indra perasa dan penciuman serta keterkaitannya terhadap preferensi dan asupan 140 makanan. Temuan itu divalidasi dalam kelompok terpisah yang terdiri dari sejumlah partisipan berusia 25 tahun dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children yang berbasis di Inggris.
Tim itu kemudian mengaplikasikan metode pengacakan Mendel (Mendelian randomization), yang menggunakan perbedaan genetik antarindividu untuk membantu membedakan hubungan sebab-akibat dari korelasi dalam penelitian kesehatan.
"Menentukan apakah makanan tertentu menjadi penyebab, atau berkaitan dengan suatu penyakit, merupakan tantangan signifikan dalam epidemiologi nutrisi," ujar Daniel Hwang dari Institut Biosains Molekuler UQ.
Kerangka itu menawarkan cara baru untuk mengatasi berbagai tantangan yang sudah lama ada dalam riset nutrisi, di mana penetapan hubungan sebab-akibat antara pola makan dan penyakit terbukti sulit dilakukan, tutur Hwang.
Indra perasa dan penciuman memainkan peran penting dalam membentuk pilihan pola makan, dan para peneliti menuturkan bahwa pemanfaatan faktor-faktor pendorong biologis ini dapat memperkuat bukti mengenai bagaimana pola makan memengaruhi penyakit, imbuhnya.
Pola makan yang tidak sehat menyebabkan sekitar 11 juta kematian dini setiap tahunnya, yang terutama dipicu oleh penyakit kardiovaskular dan kanker, dan mendorong lonjakan tingkat obesitas, kanker, dan diabetes yang membebani sistem perawatan kesehatan global, papar tim peneliti tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan sebut kenaikan suhu dalam setahun terakhir lampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius
Indonesia
•
09 Feb 2024

Sebelas spesies burung liar baru telah ditemukan di Danau Baiyangdian, China utara
Indonesia
•
08 Dec 2022

Ilmuwan Rusia kembangkan galur vaksin baru untuk lawan virus flu burung H5N1
Indonesia
•
22 Jan 2026

Laporan PBB ungkap lapisan ozon alami ‘pemulihan’
Indonesia
•
18 Sep 2025


Berita Terbaru

Peneliti di Australia kembangkan alat digital untuk deteksi efek samping serius imunoterapi kanker
Indonesia
•
18 Jun 2026

Bukan pemanis buatan! Gula langka rendah kalori ini berasal dari tebu dan bakteri
Indonesia
•
18 Jun 2026

Tak ada sinyal? Warga Beijing kini bisa kirim SMS via satelit saat bencana
Indonesia
•
18 Jun 2026

Ilmuwan China temukan spesies baru dinosaurus berbulu
Indonesia
•
18 Jun 2026
