
PBB: Rata-rata satu anak tewas setiap hari di Gaza dalam 300 hari terakhir

Foto yang diabadikan pada 25 Juli 2026 ini menunjukkan seorang anak pengungsi Palestina di Gaza City. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Warga sipil di Gaza terus menghadapi serangan militer, gempuran artileri, tembakan senjata api, dan serangan angkatan laut yang intens dari Israel, serta berbagai ancaman lainnya terhadap keselamatan mereka, ungkap badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (6/8).
Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) pada Kamis menyampaikan bahwa sedikitnya 300 anak telah tewas di Gaza dalam 300 hari terakhir sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, dengan rata-rata satu anak tewas setiap harinya.
"Saat anak-anak terus hidup di bawah kondisi yang sulit, termasuk tempat pengungsian yang kelebihan kapasitas tampung serta akses yang minim terhadap air bersih dan layanan kesehatan, PBB beserta para mitra kemanusiaan berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan bantuan," ujar Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Pekan lalu, para mitra yang mendukung layanan perlindungan anak telah mendistribusikan lebih dari 800 alat kebersihan, beserta wadah air dan deterjen, kepada 50 keluarga pengungsi, termasuk anak-anak dan pelaku rawat (caregiver). Mereka juga menyalurkan 300 kartu identitas anak dan 500 buku tulis untuk anak-anak, papar OCHA.
Bulan lalu, para mitra menyalurkan bantuan tunai, perangkat bantu, alat bantu jalan, popok, kasur medis, dan layanan rehabilitasi kepada lebih dari 500 anak penyandang disabilitas, imbuh OCHA.
Sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi kekerasan berbasis gender, para mitra melaporkan dibukanya ruang aman baru di Kegubernuran Gaza Utara pada pekan lalu. Dikatakan OCHA, fasilitas tersebut menyediakan ruang yang terjamin kerahasiaannya bagi kaum wanita dan anak perempuan untuk mendapatkan dukungan dan berbagi pengalaman.
"Di seluruh Gaza, sekitar 8.400 wanita dan anak perempuan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di 85 ruang aman setiap pekannya," kata badan kemanusiaan tersebut. "Organisasi-organisasi kemanusiaan menekankan bahwa untuk membuka lebih banyak ruang aman dan menjangkau lebih banyak orang, mereka membutuhkan tambahan pendanaan dan akses yang aman ke seluruh area."
Di Tepi Barat, sekelompok pemukim Israel dilaporkan membakar sejumlah rumah di komunitas Palestina di Tuba, area Masafer Yatta, Hebron, pada Rabu (5/8) malam waktu setempat.
Tiga keluarga, termasuk 14 anak, terpaksa mengungsi dan mencari perlindungan di tempat kerabat dan tetangga. Beberapa orang mengalami luka-luka, termasuk dua anak, sementara sebuah sistem tenaga surya dan 10 ton pakan ternak hancur bersama dengan sejumlah harta benda lainnya, urai OCHA.
Dalam tujuh bulan pertama 2026, OCHA mendokumentasikan lebih dari 1.380 insiden yang melibatkan para pemukim Israel dan mengakibatkan jatuhnya korban, kerusakan harta benda, atau keduanya, dengan rata-rata sekitar 6,6 insiden per hari di 250 komunitas Palestina.
Dalam periode yang sama, lebih dari 2.300 warga Palestina terpaksa mengungsi akibat serangan para pemukim dan pembatasan akses terkait.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tingkat kepuasan publik terhadap kabinet PM Kishida turun ke level terendah baru
Indonesia
•
12 Jul 2024

Opini – Taiwan bantah upaya China terkait kesalahan interpretasi terhadap United Nations General Assembly Resolution 2758
Indonesia
•
23 May 2024

Setengah juta liter air Zamzam disediakan di Masjidil Haram untuk buka puasa
Indonesia
•
04 Apr 2022

China adakan sidang tahunan ‘Dua Sesi’, soroti rencana lima tahun ke-15
Indonesia
•
09 Mar 2026


Berita Terbaru

Satu nyawa melayang, virus West Nile kembali mengintai Israel
Indonesia
•
07 Aug 2026

UNICEF: Wabah Ebola tewaskan 330 anak di RD Kongo, balita jadi korban terbanyak
Indonesia
•
07 Aug 2026

Media Saudi: Iran dan Oman capai kesepahaman awal untuk buka kembali Selat Hormuz
Indonesia
•
07 Aug 2026

PBB: Serangan Israel ke Lebanon capai titik tertinggi sejak kesepakatan gencatan senjata
Indonesia
•
07 Aug 2026
