
Pasien Long COVID di Florida, AS, tak punya banyak opsi perawatan

Sejumlah pejalan kaki melewati sebuah poster yang mengiklankan lokasi pengujian COVID-19 di New York, Amerika Serikat, pada 12 Mei 2022. (Xinhua/Michael Nagle)
Pasien Long COVID juga bergumul dengan kesehatan mental mereka, sementara para penyintas COVID-19 memiliki tingkat depresi, kecemasan, dan bahkan bunuh diri lebih tinggi dibandingkan kelompok populasi lainnya.
New York City, AS (Xinhua) – Tidak adanya klinik Long Covid, atau penyakit COVID-19 yang berkepanjangan, di Florida tengah, Amerika Serikat (AS), berarti bahwa para pasien terpaksa berkompromi dengan perjalanan panjang ke klinik-klinik COVID-19 di seluruh negara bagian tersebut dan bahkan dengan daftar tunggu yang lebih lama, seperti dilaporkan Spectrum News pada Ahad (16/10)."Klinik COVID-19 yang letaknya jauh, seperti klinik kami misalnya, dibanjiri pasien," kata Irene Estores, seorang dokter yang mengelola sebuah klinik Long COVID di negara bagian itu. "Para pasien harus menunggu.""Bagi sebagian orang, mengunjungi klinik Long COVID hanya dilakukan setelah berulang kali upaya sia-sia untuk menemukan perawatan di tempat lain," ungkap laporan tersebut.Banyak pasien Long COVID bergumul dengan kesehatan mental mereka, papar laporan itu. Para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Washington St. Louis menemukan bahwa untuk para penyintas COVID-19, tingkat depresi, kecemasan, dan bahkan bunuh diri tercatat lebih tinggi dibandingkan kelompok populasi lainnya.Diperkirakan sebesar 7,5 persen orang dewasa di AS menderita kondisi pasca-COVID-19 yang berlangsung lebih dari tiga bulan. Terlepas dari kepentingan publik yang luas dengan isu ini, efektivitas perawatan untuk kondisi tersebut berbeda-beda bagi tiap orang, dan tidak tersedia secara luas, tambah laporan itu.Kerugian ekonomi
Para ahli memperkirakan bahwa Long COVID-19 atau penyakit COVID-19 yang berkepanjangan berpotensi membuat ekonomi Amerika Serikat mengalami kerugian hingga triliunan dolar dan hampir pasti akan memengaruhi banyak industri, menurut laporan situs jejaring AS WebMD pada akhir September lalu."Total kerugian ekonomi bisa mencapai 3,7 triliun dolar AS," kata situs jejaring tersebut, mengutip pernyataan David Cutler, seorang profesor ilmu ekonomi di Universitas Harvard.Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS, sebanyak 4 juta warga Amerika usia kerja jatuh sakit akibat Long COVID-19 sehingga tidak dapat bekerja, kata Katie Bach, seorang senior fellow di Brookings Institution sekaligus penulis sebuah studi yang meneliti dampak Long COVID-19 pada pasar tenaga kerja."Itu berarti sebesar 230 miliar dolar AS pendapatan hilang, atau hampir 1 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto) AS," kata situs jejaring itu.*1 dolar AS = 15.247 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Penasihat medis AS Fauci peringatkan sikap antivaksin COVID-19 rusak upaya imunisasi anak
Indonesia
•
19 Sep 2022

Fokus Berita – Gaza hadapi krisis kemanusiaan yang semakin buruk meski gencatan senjata berlaku
Indonesia
•
02 Dec 2025

RD Kongo gelar vaksinasi mpox tahap kedua
Indonesia
•
29 Oct 2024

Ratu bulu tangkis Taiwan itu juga seorang doktor
Indonesia
•
29 May 2021


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
