
Ilmuwan temukan bukti efek pasang surut Bulan di ‘plasmasphere’ Bumi

Orang-orang berkumpul untuk menyaksikan gelombang pasang Sungai Qiantang di tepi Sungai Qiantang di Yanguan di Kota Haining, Provinsi Zhejiang, China timur, pada 11 September 2014. (Xinhua/Han Chuanhao)
Pasang surut Bulan di plasmasphere Bumi memiliki periodisasi diurnal dan bulanan yang berbeda, yang berbeda dari variasi semidiurnal dan semibulanan yang dominan dalam efek yang teramati sebelumnya di wilayah lain.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah tim ilmuwan China dan mitra internasional mereka untuk pertama kalinya menemukan bukti sinyal yang disebabkan pasang surut Bulan di plasmasphere Bumi, wilayah dalam magnetosfer, yang dipenuhi dengan plasma dingin.Penelitian tersebut, yang dilakukan bersama oleh tim ilmuwan dari Universitas Shandong, Institut Geologi dan Geofisika di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China, serta sejumlah institut lainnya, telah diterbitkan baru-baru ini dalam jurnal Nature Physics.Menurut para ilmuwan, efek yang disebabkan oleh pasang surut Bulan telah dilaporkan di kerak Bumi, laut, atmosfer yang didominasi gas netral, dan medan geomagnetik dekat tanah. Namun, efek ini di wilayah yang didominasi plasma belum pernah dieksplorasi sebelumnya.Xiao Chao, salah satu penulis dalam penelitian tersebut yang juga peneliti di Universitas Shandong, mengatakan bahwa mereka mendapatkan temuan baru ini dengan menganalisis data dari 10 lebih satelit selama empat dekade terakhir.Mereka menemukan bahwa sinyal yang disebabkan pasang surut Bulan di plasmasphere Bumi memiliki periodisasi diurnal dan bulanan yang berbeda, yang berbeda dari variasi semidiurnal dan semibulanan yang dominan dalam efek ini yang teramati sebelumnya di wilayah lain.Temuan-temuan baru ini memperluas pemahaman kita tentang interaksi Bumi-Bulan ke arah yang belum pernah dipertimbangkan sebelumnya, tutur Xiao.Temuan-temuan ini juga memberikan petunjuk penting untuk penelitian pada masa mendatang di wilayah yang lebih luas dan sistem dua benda angkasa, termasuk sistem planet lain di tata surya kita maupun di luarnya, imbuh Xiao.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Studi: Vaksinasi selama kehamilan lindungi bayi baru lahir
Indonesia
•
16 Feb 2022

Teleskop raksasa China ungkap semburan relativistik lubang hitam
Indonesia
•
01 Aug 2023

Menilik jamur raksasa liar yang ditemukan di Yunnan, China
Indonesia
•
20 Jul 2024

Studi ungkap berjalan 5.000 langkah sehari dapat perlambat perkembangan Alzheimer
Indonesia
•
05 Nov 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
